Ratu Cumi's Choice

PERJALANAN SETELAH MENDAPAT LISENSI DIVING

Setelah mendapatkan lisensi diving (menyelam)  ngapain ?  Tentu saja pergi menyelam secara berkala, minimal 6 bulan sekali.  Pertama-tama ak...

Rabu, 20 Juni 2018

Perjalanan (Di) 30 Tahun





30 September 2016, aku berusia 30 tahun.

Beberapa saat sebelum aku menginjak usia ini aku galau parah.

Kenapa?

Yang pertama, sih, jelas di umur segini teman-temanku yang lain sudah pada gendong anak. Ada yang udah gendong dua malahan. Aku? Ketika buka mata masih sendirian  dan berada di dalam kosanku yang berantakan di Kebon Jeruk.

Kedua, tidak ada kebaharuan dalam kehidupanku. Masih sama saja dengan kehidupanku saat aku berusia 29. Masih jadi wartawan di media anak-anak. Masih bangun siang. Masih (saat itu) pacaran dengan dia yang entah ke mana arahnya. Singkatnya, semua terasa MONOTON.

Ketiga. Bagi perempuan 30 tahun itu krusial. Lagi ranum-ranumnya. Segala kerasa. Mudah letih, lelah, lesu, bahkan adrenalin yang menggebu-gebu pun mulai terkikis. Harus nyaman dan segala teratur dengan baik. Yang paling parah, konon metabolisme tubuh pun sudah mulai lambat. Yang artinya, akan makin sulit untuk membakar lemak.

No. No. No.
Saat itu aku ingin mematahkan dan mengubur dalam-dalam perasaan galau ini. Aku enggak mau menjadi (semakin) tua dengan beragam keluhan yang tak pasti.

Maka:

"Aku pas ulang tahun mau naik gunung!" Ujarku kepada si pacar (saat itu).
"Ke mana?"
"Lawu."
"Oke."

Terucap begitu saja, karena baru liat tentang Lawu di IG. Aku segera mengumpulkan pasukan dan membentuk grup WA "Gunung Lawu".

Ya, seimpulsif itu dan segerak cepat itu. Langsung cari tiket kereta api. Siapin perlengkapan. Latihan fisik. Cerewet di grup wasap biar orang-orang juga siapin fisik dan peralatannya.

Dan tanggal 30 September 2016 pun aku berada di kereta api menuju Madiun. Tepat pukul 12 malam, pergantian malam ke tanggal 1 Oktober, aku tiup lilin bersama temenku si Puput. Ya, kami lahir cuma beda sehari hahaha.

Saat itu titik kumpul kami di Madiun. Kebetulan salah satu temanku lagi tugas di Madiun. Kita kumpul di rumahnya kemudian kita road trip ke Cemoro Sewu.


Tim kami sembilan orang saat itu, empat laki-laki dan lima perempuan. Setelah memastikan semua peralatan lengkap, dan perijinan beres diurus, pendakian pun dimulai.

Medan Gunung Lawu berbatu, mengingatkanku dengan jalur pendakian Taman Nasional Gunung Gede Pangrago via Cibodas. Tracknya panjaaaaaang banget.

Jam 12 kita tertib istirahat makan siang (padahal pos 1 aja belum). Kita istirahat di salah satu bidang lapang dan ada pos di sana. Entah pos apa, ada ibu-ibu dagang gorengan di gembolan.

Kita pun bongkar makan siang. Bahkan pasang hammock segala. Abis makan leyeh-leyeh sejenak sambil hammock-an. Cuaca panas banget saat itu, makannya hammock-an di bawah pohon rasanya enggak bisa dibiarkan begitu saja.

Setelah semua siap kita kembali mendaki. Saat itu salah satu teman perempuanku mulai kelelahan. Dia berjalan mulai lambat di belakang. Tapi tak masalah. Tak ada yang dikejar yang penting semua sehat dan selamat.

Aku dan ketiga teman perempuanku jalan cukup cepat sambil ngobrol haha hihi. Gak lama si Puput menyusul dan jalan bersama kami. Lambat laun cuaca berubah. Yang tadinya panas terik tak tertandingi menjadi mendung kelabu. Tak diragukan, hujan akan segera turun.

Benar saja, belum tiba di pos 2, hujan turun sangat deras. Aku lupa kejadiannya bagaimana tetiba kami terpisah-pisah. Temanku dua di depan. Aku sendiri di tengah. Dan sisanya di belakangku.

Aku tuh ragu jalan maju sendirian atau tunggu teman (yang cukup jauh di belakang). Akhirnya aku diam di bawah hujan sendirian. Setelah aku melihat jas hujan temanku samar-samar di belakang. Aku langsung maju jalan.

Hujannya enggak ramah. Rintiknya enggak romantis. Pake angin segala. Kacamataku berembun. Sulit rasanya aku berjalan. Dikit-dikit aku tengok temanku di belakang.
Alhamdulillah banget ternyata aku tidak jauh dari pos 2.

Banyak pendaki berteduh di sana. Penuuuuuuh banget. Aku melihat keberadaan dua temanku di sana. Kemudian satu persatu pun berkumpul. Namun, kelompokku kurang dua orang. Si temanku perempuan yang kelelahan dan pacarku (saat itu).

Sejam lebih tidak kunjung datang. Bahkan pendaki lain sudah tiba. Aku selalu bertanya keberadaan keduanya. Kata pendaki yang melihat, mereka sedang jalan pelan tapi cukup jauh. Beberapa saat kemudian mereka pun datang. Keadaan teman perempuanku menggigil kedinginan, mukanya pucat. Kami menggigil kedinginan dia dua kali lebih kedinginan. Untungnya pos cukup padat saat itu. Pendaki tumplek blek jadi satu, ada yang bikin air hangat lalu digilir untuk diminum.

Ini mengapa aku suka mendaki. Tak kenal tapi saling mengasihi. Semua teman. Semua kawan.

Hujan tidak main-main kala itu, jalur di hadapan kami jadi tampak seperti air terjun. Kami terjebak berjam-jam di sana. Tak bisa melanjutkan perjalanan. Beberapa tim memutuskan untuk kembali turun. Mustahil katanya.

Aku akhirnya bermusyawarah (kamana atuh bermusyawarah) dengan teman-temanku dan memutuskan untuk tetap menunggu badai berlalu dan melanjutkan perjalanan. Ya, target kami saat itu puncak. Aku mengatur strategi. Kami akan berjalan dua-dua, menggunakan buddy system. Membagi rata kekuatan yang ada. Dua orang yang bisa berjalan dengan cepat aku minta jalan di depan membawa tenda. Aku dan rekan-rekan yang berjalan pelan  tapi pasti di tengah. Temanku yang kelelahan berjalan di paling belakang. Tenang, dia tidak jalan sendirian. Dia jalan bersama dia yang paling mumpuni di dalam tim ini. Yang dia adalah !#/))#*^#@*(@*@/@€(@) (maaf sinyal hilang).

Tak lama berjalan kami tiba di pos 3. Hujan sudah berhenti tapi dingin tak tertahankan. Bergerak cepat bangun tenda dan memasak makan malam. Salah satu temanku tiba-tiba terdiam saat itu. Aku pikir dia kesurupan! Soalnya dia melepas genggamannya yang lagi memegang tiang tenda.

“Wan, are you oke?” tanyaku.
Dia balik badan sambil bilang, “gue kedinginan, Mel.”

Air belum masak, Ridwan kedinginan. Aku bingung. Teman-teman sibuk bikin tenda. Tapi tenang, aku bingungnya gak kelamaan. Aku peluk tuh si Ridwan. Tangannya gue genggam terus digosok-gosok sampe anget. Alhamdulillah banget, nih, si Ridwan gak lama skip-nya. Dia mulai hangat dan bisa bikin tenda lagi.

Enggak lama rombongan terakhir datang. Temanku yang kelelahan segera diminta ganti baju. Menghangatkan diri. Aku masak sayuran berkuah saat itu. Hangat dan nikmat. Kata orang-orang enak. Entah karena lapar atau emang gak ada makanan lagi itu ya hahahaha.

Ketika aku mau istirahat, aku selalu mendengar ada pendaki lewat. Banyaaaaaaaaaaaaaaak banget gak berhenti-berhenti. Katanya malam itu malam satu suro. Banyak orang datang ke puncak Gunung Lawu untuk melakukan ritual mandi di Sendang Drajat.

Pas aku kebelet pipis, aku keluar tenda sama temanku. Pas balik aku liat ada bapak-bapak pake baju serba putih lagi diem di ujung kumpulan tenda rombongan kami. Aku bilang ke temanku mereka ngeliat apa enggak. Mereka bilang mereka liat, jadi yaudah didiemin aja. Toh, enggak ganggu juga. Kami pun tertidur.

Kami semua bangun siang kelelahan. Gak ada yang pingin buru-buru ke puncak saat itu. Lagian di puncak rame orang malam satu suro-an. Kami pun memutuskan jam 9 baru muncak.

Rencana awal kami akan turun via Cemoro Kandang. Tapi melihat temanku yang sudah kelelahan dan gak sanggup jalan lagi, kami pun memutuskan kembali lewat Cemoro Sewu. Walau temanku sudah pulih dari kelelahan, tapi dia memutuskan tidak ikut ke puncak dan diam di camp.

Kami ke puncak berdelapan. Jalan dua-dua, pelan tapi pasti, rapih jali, foto sana, foto sini. Aku lupa tepatnya jam berapa, tapi kayaknya sebelum jam 12 sudah tiba di puncak.

Aku bersyukur saat itu. Aku di umur aku yang sudah 30 tahun, badan gendut, rambut bau tapi ketek tetep wangi, berhasil berdiri di 3265 mdpl. Puncak ke-12.

Setelah sampai di puncak, target pun berubah. Pulang ke rumah dengan selamat. 

Hujan mulai rintik. Tak langsung menuju pos 3 kami makan pecel dulu dooong di Mbok Yem. Warung pecel tertinggi kayaknya, nih. Penuuuuuh banget warung pecelnya. Pas lagi ngantri pecel, ujan deres lagi, dong. Semua numplek blek lagi di warung ini. Dingin, cape, untungnya perut kenyang. Begitu hujan reda sedikit kita pun tancap gas ke pos 3.

Sampai pos 3 segera packing. Cuaca tak bersabat. Kabut, gelap, dingin. Hujan akan kembali turun saat itu. Aku selesai packing duluan. Aku mengajak teman perempuanku yang lelah untuk jalan duluan pelan-pelan. Sayangnya dia memutuskan untuk memakai sendal gunung, berikut kaos kakinya dibungkus lagi pake plastik. Ini sangat amat tidak disarankan karena pasti licin. Apalagi hujan akan turun kembali. Udah dikasih tau keukeuh, yasudah.


Aku bilang untuk perhatikan langkah kakiku. Ikutin. Aku akan jalan pelan-pelan. Maka jalanlah aku. Karena aku fokus banget turun sambil ngomong cara turun yang bener, aku lupa nengok belakang. Ada kali 15 menit aku ngomong, pas nengok orangnya gak ada. Ketinggalan hahahhaa. Jadi ceritanya aku sendirian lagi, nih, di tengah hutan belantara. Ngeri ngeri sedap, nih. Kabut pula. Jujur aku ketakutan. Pake banget. Untungnya, gak lama Puput dateng nyusul aku. Emang, dia mah buddy system yang pas mantab banget.

Teman-teman aku yang lain pun turun cepat ke pos 2. Tinggal teman perempuanku itu yang belum tiba. Akhirnya diputuskan kami lanjut jalan, karena sudah jam 5 sore. Kami ngejar kereta pulang jam 10 malam. Tenang, temanku bersama expert, kok. Makannya kami berani tinggal.

Turun cepat tanpa rem. Break sebentar di kala maghrib. Kemudian hujan deras pun turun lagi, lagi, dan lagi. Mana aku kebelet boker pula. Tapi takut buat boker sembarangan, gara-gara temenku si Ajeng ngeliat hal-hal aneh melulu. Aku udah bilang kalo liat hal aneh jangan dianggep. Aku sih gak bisa liat apa-apa, kacamata aku berembun parah. Aku cuma bisa liat cahaya senterku, kaki temanku, dan senternya si Puput. Aku udah kebelet banget, tapi kata Puput tahan aja dulu sampe ke base camp. Yaudah dehhhhhh lanjuuuut. Akhirnya jam 19.00 aku bisa boker dengan bersahaja di base camp.

Nyampe di warung soto, beberapa temanku udah ada yang tancap gas balik duluan ke Madiun. Mereka ngejar kereta jam 9 malam. Aku masih santai karena keretaku jam 10 malam. Makan soto dulu lah.. Saat itu sisa aku, Puput, Ajeng. Kami nunggu rombongan terakhir.

Jam 20.30 mereka belum juga dateng. OMG!! Aku mulai panik nih, Puput sama Ajeng aku suruh balik ke Madiun duluan, karena takut ketinggalan kereta. Tapi mereka gak mau. Mereka mau nunggu rombongan terakhir. Aku atur strategi sama Puput, soalnya kita mulai panik. Rombongan terakhir gak dateng-dateng. Jam 21.30 kami pasrah dengan tiket kereta dam mulai mencari ojek buat ngejemput teman kami ke atas. Tapi kemudian kami sadar entah di mana mereka berada. Kami pun harap-harap cemas. Kita tunggu sampai jam 11 malam, kalau belum ada tanda-tanda kemungkinan akan kami cari.

Alhamdulillah banget, nih, jam 22.30 mereka pun tiba. Teman perempuanku itu pucat pasi. Segera dikasih soto ayam dan teh anget biar gak pucet lagi. Dia cerita banyak hal yang nyata dan “nyata”. Lumayan bikin bulu kuduk berdiri. Alhamdulillah dijagain bisa sampe turun ke basecamp.

Lalu pulangnya gimana? Tiket keretanya, kan, udah hangus.

Jangan kayak orang susah, kita beli tiket lagi. Lebih tepatnya dibeliin sama temanku, sebagai rasa terima kasih. Alhamdulillah rejeki anak soleh.

Selalu seru dan banyak cerita di setiap pendakian. Mungkin kalau aku tidak hobi mendaki, aku tidak punya cerita yang bisa aku tulis atau aku ceritakan tentang ulang tahunku yang ke-30 ini.

Kamis, 08 Februari 2018

Perjalanan Juga Tentang Rasa Bersama Logika

Perjalanan bukan melulu destinasi. Perjalanan juga bisa tentang rasa.
Tapi jika sudah berbicara tentang rasa tak jauh dari yang namanya cinta.

Aku yakin semua orang pernah jatuh cinta. Aku, pun.
Jatuh cinta itu identik dengan bahagia. Bagaimana tidak? Dua insan saling berbagi rasa seolah dunia hanya milik berdua. Rasanya asal sama si dia, makan ketoprak berdua di pengkolan jalan juga rasanya udah kaya di hotel bintang lima. Kentut yang bau telur busuk aja udah kaya wangi melatinya suketi. Mau kepanasan, kehujanan, kedinginan, kelaperan, juga rasanya asyik-asyik aja asalkan sama si dia.

Iya, kayak orang bego, ya. Nanti baru nyadar bego kalo cinta udah terlalu lama bersemi. Bunga-bunga asmara pun mulai berubah jadi kaktus dengan datangnya sebuah logika.

Apa aku salah satu bagian dari golongan bego ini?
Tentu saja, namanya juga dibutakan oleh cinta. Diajak jalan kaki dari Kota ke Sunda Kelapa aja udah berasa diajak jalan di red carpet.

HAHAHAHHAHA

Kenapa kok bisa bego? Karena menurut aku cinta itu sakral. Cinta itu bukan main-mainan, karena melibatkan perasaan. Buat aku pribadi menata perasaan itu sulit, karena aku ini bukan orang yang besar dengan perasaan menyek-menyek. Aku dibesarkan untuk menjadi perempuan mandiri, setrong, dan kuat.  Jatuh cinta itu menurut aku hal yang hanya akan membuat diri ini disesaki oleh berbagai masalah, problematika, dan dilema. Menurut aku, kehidupan itu sudah banyak yang harus diurus, sementara cinta itu hanya menghambat. Sehingga sulit rasanya aku untuk jatuh cinta.

Akan tetapi, sampailah pada suatu hari aku jatuh cinta kepada seseorang. Di depan orang ini, aku seolah menunjukkan aku ini lemah kaya benang jait, bukan lagi aku jadi benang layangan yang siap diadu buat menang. Iya sekalinya jatuh cinta seserius itu aku. (geuleuh nya, tapi da emang kitu!)

Awal mula pacaran itu, biar kata diajak susah, rasanya, ya, indah-indah aja. Padahal teman-teman sudah mengingatkan, lebih baik nangis di dalam BMW daripada nangis di Bajaj. Yah, namanya juga lagi jatuh cinta, rasanya susah senang tanggung bersama.

Tapi yang dilupakan oleh dua insan yang sedang jatuh cinta itu adalah cinta itu berevolusi.

Seorang ahli pernah berkata:

"Cinta akan terus berubah, bertumbuh, dan berkembang berkembang, dan berevolusi. Seiring berjalannya waktu, cinta yang awalnya menggebu menjadi semakin matang dan mendalam di hati. Di sinilah proses pendekatan menjadi penting, kita melakukan perkenalan karakter hingga visi dan misi. Selain itu kita juga harus yakin bahwa masing-masing mempunyai cinta yang besar untuk menyempurnakan hubungan."

Ketika menjalin hubungan dengan seseorang pasti kita punya tujuan, dong. Kalau kata lagu, sih, "mau dibawa ke mana hubungan kita~~~~".
Aku dari awal jatuh cinta sudah menetapkan dalam hati kalau apa yang aku jalani saat itu seserius aku sedang menapaki masa depan. Udah gak ada lagi, tuh, mikirin melanglang buana sendirian, yang dipikirin, ya, berdua. Apalagi kalau si doi udah ngomongin masalah pernikahan.

Ketika hubungan sudah melangkah ke arena yang lebih serius, biasanya visi dan misi mulai berkelok. Perempuan-aku, sih, entah kamu- ingin sebuah kepastian. Secinta-cintanya sama makhluk ciptaan Alloh S.W.T yang berjenis laki-laki, kan nanti kita gak akan kenyang sama cinta, dong? Bayar bulanan, biaya rumah sakit, melahirkan, pendidikan, dan lain sebagainya juga, kan, gak bisa dibayar oleh cinta. Ketika sudah sampai saat ini, cinta mulai bersinggungan dengan yang namanya logika. Jika ini terjadi, udah enggak bisa deh nafas buat diri sendiri, nafas itu harus berdua. Kita harus menyempurnakan hubungan.

Tapi apa pasanganku memikirkan hal yang sama? Jauh ke depan? Ternyata enggak. Kalo dipikiran dia, jalanin aja dulu, nanti juga ada jalannya (Dikatakan olehnya, yang berdiri di atas kaki sendiri saja belum mumpuni). Nah, loh. Saat orangtua kita sendiri menginginkan anaknya untuk hidup bahagia, pasangan kita sendiri belum tahu jika hidup bersama akan tinggal di mana.

Sebenarnya perbedaan visi dan misi ini bisa dibicarakan, tapi jika memang sudah tidak sejalan mau bagaimana? Mengucapkan kata tak semudah merealisasikannya. Aku pribadi, sih, merasa diberikan janji semu aja.

Di sini mulailah aku merasa aku jatuh cinta dengan orang yang salah.
Ibarat aku sudah membagi nafas aku untuk dia tapi dia hanya bernafas untuk diri dia sendiri.
Cinta yang dimiliki ternyata  tidak sama besar untuk menyempurnakan cinta.

Patah hati? Banget.
Mana ada yang mau kisah cinta berakhir dengan tidak bahagia. Apalagi untuk orang seperti aku yang sulit menata perasaan.
Bagaimana dengan si laki-laki?
Jelas dia mah gak mikirin hal remeh temeh kayak gini, karena, ya, itulah laki-laki. Patah hati enggak, malah merasa bebas merdeka. Mau pacaran bertahun-tahun juga gak akan diambil hati.

HAHAHAHAHA...
Kesian...

Yah, tapi kan kalau gak pernah kaya gini kita gak akan nyampe kepada pemikiran seperti ini bukan? Sebuah perjalanan rasa penuh cinta yang berakhir dengan logika.

Selasa, 11 Oktober 2016

Besar Tapi Kecil



Orang berbadan gendut sering kali dipandang sebelah mata, sering dianggap tidak mampu melakukan aktivitas fisik, dan sering kali dianggap sebagai beruang sirkus yang lucu. Sehingga sebagian besar orang gendut pada akhirnya minder untuk beraktivitas fisik, dan lebih memilih untuk melakukan aktivitas yang sekiranya tidak akan mendapat nyinyiran dari pemirsa. So, sad!
Aku sebagai orang yang berbadan gendut ingin mematahkan opini publik yang seperti itu. Aku aktif berolah raga, dari SMA. Aku tidak peduli ketika aku berlari dengan lambat, kan yang penting lari. Aku juga tidak peduli ketika berolahraga tapi lemakku bergoyang semua, namanya juga gendut. Aku juga tidak mempedulikan ketika aku dibilang cepat lelah, namanya juga olahraga mana ada yang enggak lelah. Aku ikut cabang olahraga hoki, suka diejekin, bahkan dijadikan seorang kiper. Aku, sih, terima-terima saja. Aku anggap itu mengasyikan karena aku hanya diam di depan gawang, HAHAHA. Tapi, siapa sangka, kegetolan aku menjadi kiper membuat aku menjadi seorang atlet hoki atas nama kontingen Jawa Barat untuk berjuang di Pra Pon tahun 2007.
Setelah tidak aktif di hoki, aku mulai suka jalan-jalan. Aku suka backpackeran ala-ala, modal dikit tapi keliling ke mana-mana. Tadinya hanya ke kota-kota besar aja jadi turis, tapi lama-kelamaan jadi penikmat wisata alam. Kategori “gunung” yang paling pertama aku datengin itu Gunung Bromo, sekitar tahun  2009. Dari perjalanan itu jadi suka banget naik gunung.
Di daerah kampusku di Jatinangor, ada satu gunung yang sering dijajaki oleh mahasiswa. Namanya Gunung Geulis. Konon makam yang ada di gunung tersebut adalah makam Nyi Po Ha Ci, seorang wanita yang memiliki paras yang sangat cantik. Aku bersama teman-temanku melakukan pendakian santai ke sana. Dibandingkan Bromo gunung ini memberikan pengalaman pendakian yang lebih menantang.
            Ketagihan? Pasti! Aku pun bersama teman-teman mulai sering melakukan pendakian ke gunung-gunung yang lebih menantang. Aku tidak mengikuti organisasi pecinta alam, tapi pengetahuanku tentang dunia mendaki aku dapat dari teman-temanku yang mengikuti organisasi pecinta alam. Saat itu mendaki gunung belum sepopuler seperti sekarang ini. Sehingga pendakian dilakukan benar-benar untuk berpetualang bersama dengan teman-teman dan mendapatkan pembelajaran dari alam semesta.
            Mungkin orang akan menganggap klise tentang kalimat “pembelajaran dari alam semesta” tapi tidak bagiku. Seperti aku bilang sebelumnya, aku ini berbadan gendut, sehingga ketika mendaki gunung aku tidak seperti teman-temanku yang berbadan sewajarnya. Banyak persiapan dan perjuangan yang harus aku lakukan.
            Yang namanya naik gunung itu capek, pake banget. Kita mendaki bukan cuma jalan jauh. Sehingga butuh banget fisik yang kuat. Kondisi fisikku tidak akan sama dengan teman yang lain. Aku sebagai pendaki gendut akan berjalan lebih lambat dari teman-teman yang lain. Tapi walaupun lambat kita harus tetap berjalan dengan langkah yang konstan, dan mengatur napas. Untuk bisa seperti ini kita harus punya bekal fisik dengan cara olahraga sebelum berangkat.
Menu olahraga aku lumayan berat ketika akan mendaki gunung. Karena aku selalu menetapkan targetku untuk sampai puncak. Seminggu aku lari 3 kali dan setiap lari harus mencapai jarak 5 kilometer dengan waktu yang konstan (biasanya akan butuh waktu 50-55 menit). Aku tidak mampu lari lebih cepat dari itu, maklum badannya berat hehehe. Ketika lari aku mengatur ritme pernapasan. Dua langkah aku menghirup napas, dan dua langkah kemudian buang napas. Napas aku usahakan dari hidung, karena kalau menggunakan mulut akan membuat mulut kering. Tapi jika badan sudah dalam keadaan lelah aku mulai menggunakan pernapasan lewat hidung dan mulut. Tarik napas lewat hidung dan dibuang dari mulut.
Secara tidak langsung alam semesta mengajarkan semua itu. Aku menjadi lebih pantang menyerah dan berusaha, tidak menyerah pada keadaan. Aku tidak menyesali bentuk fisikku, yang aku harus lakukan adalah aku menghargainya dan berjuang bersamanya. Sering aku merasa lelah, tapi dibawa enjoy dan positif saja.
Alam semesta juga mengajarkanku untuk tidak sombong dan bersyukur. Keberhasilan pendakianku selalu membuat aku yakin akan selalu mencapai target. Tapi ternyata tidak selalu. Pengalaman ini aku dapatkan di Gunung Semeru. Pertama kali aku mendaki gunung ini tahun 2014. Begitu yakinnya aku akan mampu tiba di puncak. Kesombongan menghantui aku. Tapi apa yang terjadi? Di seperempat badan Mahameru aku merasa sangat kelelahan hingga tidak mampu melanjutkan pendakian dan mengesampingkan targetku. Aku duduk terdiam, memandang alam, ditemani oleh hembusan angin yang membawa butiran pasir saat itu. Aku melihat sebuah keindahan. Aku menghapuskan kesedihanku dan aku pun berkata. “Mungkin untuk saat ini puncakku bukan di Mahameru, tapi di sini”. Aku bersyukur Tuhan masih memberikan aku fisik yang kuat dan kesempatan untuk sampai di atas ini. Walaupun aku berbadan besar, aku musti ingat di tengah alam semesta ini aku kecil.
Kegagalanku tiba di Mahameru, tidak membuatku menyerah begitu saja. Aku tetap berusaha. Tahun 2015 aku pergi ke sana lagi, dan aku gagal lagi hahahaha. Kali ini aku hanya kuat hingga tiga per empat badan Mahameru. Masih pantang menyerah, tahun 2016, tepatnya Mei lalu, aku pergi ke sana lagi. Kali ini aku pasrah, nyampe syukur, kalau enggak nyampe lagi ya berarti nanti tahun depan coba lagi. Tapi Alhamdulillah, kali ini alam semesta memelukku. Akhirnya aku berhasil menginjakkan kakiku di Mahameru dengan segala usaha dan upaya.

 Mendaki gunung bukan hanya sekedar mengatur fisik, tapi juga emosi. Ketika naik gunung, aku merasa aku bukan siapa-siapa. Aku hanya bagai butiran debu ketika berhadapan dengan alam semesta. Ketika orang yang berada di dekatmu adalah saudaramu. Orang yang melangkah di depan atau belakangmu adalah teman seperjalananmu.
Sedikit lagi sampai di puncak Rinjani, Tahun 2015, aku bertemu seorang pendaki. Dia berkata kepadaku "Mba tolonglah aku dikasih semangat!" Aku tertawa mendengarnya, dari fisik dan ragapun sudah jelas dia lebih kuat. "SEMANGAT MAS! Ayo duduk dulu di sini," ujarku kepadanya. Di luar dugaan dia menjawab, "Mba aku minta semangat bukan istirahat." Aku kembali tertawa mendengarnya.

"Kalau gitu gantian aku yang dikasih semangat, dong!" ujarku.
"Mba, Ayo Semangat! Puncak sudah dekat. Kalau capek, coba tanyakan pada diri sendiri, lebih baik ke puncak yang sudah dekat atau turun lagi ke ujung sana. Ayo Mba, Aku tunggu di puncak," ujarnya.
Perbincangan singkat dengan saudara asing yang menyenangkan dan mematik semangat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada aku kembali melangkah. Begitu aku sampai di puncak, pendaki tadi berteriak di kejauhan sambil melambai, "Mba, hai mbaaaaa, selamat datang di Puncak Anjani." Aku melangkah mendekatinya lalu dia aku kasih satu inaco. Dia pun bahagia hahaha.
Ya, seperti itulah, sesama pendaki pasti memberi semangat. Sesama pendaki pasti merasa seperti saudara. Padahal kami tidak saling kenal. Hal-hal seperti inilah yang enggak bisa didapatkan dari hanya jalan-jalan ke mal atau nongkrong di cafe.
           

            Setiap gunung banyak cerita, setiap gunung banyak warna, setiap gunung punya pembelajaran yang berbeda. Banyak hal yang aku pelajari dari sebuah gunung. Dalam setiap pendakian bukan hanya melulu mencapai target, tapi juga sebagai sarana refleksi diri.
            Salah satu pendakian aku yang tidak bertarget adalah ketika ke Papandayan, tahun 2014. Aku bersama teman-temanku hanya kemping di Pondok Salada dan berjalan santai ke Tegal Alun. Salah satu teman pendakianku adalah seorang anggota dari Trashbag Community. Selama ini aku selalu membawa sampahku kembali turun. Tapi pendakian kali ini aku baru pertama kalinya bersama teman-temanku membawa sampah orang lain. Kami memungut sampah yang berada di sekitaran Pondok Saladah dan di jalur perjalanan pulang. Lumayan juga, kami mengumpulkan kurang lebih tiga buah kantung sampah.
            Aku pernah membuat artikel tentang sampah-sampah yang ada di gunung. Aku mewawancarai Kepala TNGPS saat itu. Menurutnya selain mengotori lingkungan, ternyata sampah-sampah ini turut merusak ekosistem. Seperti satwa-satwa yang berada di hutan memakan sampah yang di tinggalkan pedaki, yang notabene bukan makanan asli mereka. Hal ini aku lihat dengan mata kepalaku sendiri di Pos 3 Gunung Rinjani. Sekawanan monyet turun untuk mencari makanan. Mereka mendekati para pendaki yang sedang beristirahat. Lalu mereka mengais sampah dan memakan apa yang mereka temukan. Seperti bumbu bekas mie instan. Kebiasaan baru inilah yang merusak perilaku mereka. Mereka enggan mencari makan sendiri, tetapi mengandalkan sampah pendaki. Hal itulah yang membuat aku bawel banget ke teman-teman sependakian untuk selalu membawa kembali sampahnya. Kalau tidak mau memungut sampah orang setidaknya memungut sampah sendiri.
            Teman kami tidak mengajak memungut sampah. Kami yang melihatnya tergerak sendiri untuk mengikuti apa yang dia lakukan. Yang tadinya hanya duduk manis menunggu, langsung berdiri dan bergerak memungut sampah. Ini yang namanya berbuat baik itu pasti menular. Di mana pun, dan kapan pun. Tanpa orang-orang seperti mereka mungkin sampah di gunung ini numpuk juga.
Ceritaku yang paling pamungkas adalah tentang teman pendakian dan sikap seorang wanita. Aku punya seorang teman pendakian, laki-laki. Kami sudah menginjakkan kaki bersama di beberapa gunung. Kami bersama punya niat untuk selalu menginjakkan kaki bersama di puncak-puncak tertinggi sebelum pada akhirnya ke pelaminan (cieeeee). Sebagai seorang wanita mandiri, terkadang sulit untuk menempatkan diri ketika berhadapan dengan laki-laki. Selalu merasa bisa sendiri dan lebih baik dibandingkan laki-laki. Temanku ini adalah anggota muda dari sebuah perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung.  Dengan keahlian dan kemampuannya dia mengajari aku banyak hal tentang pendakian. Bagaimana cara melihat arah angin, melangkah di medan berpasir, menentukan tempat berkemah, packing, perbekalan, dan masih banyak lagi. Dia mengajariku hal-hal kecil tapi penting. Sehingga salah satu cara untuk “mengingatkan” aku bahwa suatu hari nanti laki-laki yang akan menjadi imam adalah dengan melakukan pendakian bersamanya. Kita ini memang wanita tangguh, tapi tetap perlu diingatkan tentang beberapa sikap.
            Aku senang berpetualang, dan aku senang berbagi tentang perjalanan-perjalananku. Setiap pulang dari pendakian suatu gunung, aku langsung unggah foto-foto di media sosial atau menulis blog. Sekali waktu ada yang pernah mengirimkan personal message di instagram saya. Perempuan ini berbadan gendut sepertiku. Dia ingin sekali mendaki gunung dan bertanya tips pendakian untuk orang gendut. Hihihi. Dari yang tadinya Cuma tanya-tanya, kami pun jadi sering berkomunikasi via personal message. Senang rasanya menginspirasi.

Rabu, 28 September 2016

Siapkan Perbekalan Mendakimu, Yuk!


Halooo selamat pagi..
Pagi ini sudah pada sarapan? Konon katanya sarapan bisa bikin kita tambah fokus dan enggak ngantuk ketika sedang beraktivitas, lo!
Aku, hari ini mau sharing tentang makanan atau lebih tepatnya perbekalan ketika mendaki gunung. Saat mendaki tubuh kita akan menguras banyak  energi, jadi kita membutuhkan asupan makanan yang tepat agar tubuh tetap sehat dan kuat. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika membuat daftar perbekalan dalam suatu rencana perjalanan. Seperti:
-Lamanya perjalanan
-Aktivitas apa saja yang akan dilakukan
-Keadaan medan yang akan dihadapi

Ketika sudah mengetahui tentang ketiga informasi tersebut, kita bisa mulai memperhitungkan kira-kira berapa kali kita harus makan besar dan apa saja menu makanannya dalam sebuah pendakian. Misal kamu akan melakukan pendakian ke Gunung Semeru selama 4 hari, setidaknya kamu akan makan ketika berada di:  

1. Ranupane (makan siang)
Karena masih berada di suatu peradaban, maka saat tiba di Ranupane kamu tidak perlu masak perbekalan. Kamu bisa membeli makan di warung yang berada di desa ini atau membungkus makanan yang kamu beli di Pasar Tumpang (tempat cek poin para pendaki sebelum melakukan pendakian ke Gunung Semeru).

2. Ranukumbolo  (makan malam)
Ini adalah tempat pertama yang biasa disinggahi oleh para pendaki untuk bermalam, setelah melakukan perjalanan panjang dari Ranupane. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih 4 jam. Biasanya, ketika tiba di sini tubuh mulai berasa lelah dan hawa sekitar pun terasa dingin. Maka kamu bisa menentukan sebelumnya, untuk makan malam apakah kamu akan membungkus makanan dari  Ranupane atau masak. Jika pilihanmu memasak, maka kamu bisa menentukan menu makanan terlebih dahulu sebelum pergi. Karena di sini ada sumber air dan hawanya cukup dingin, kamu bisa merancang menu makanan yang membutuhkan banyak air, seperti sayur sop atau capcay kuah.

3. Ranukumbolo (sarapan)
Setelah Ranukumbolo, destinasi tempat bermalam selanjutnya adalah Kalimati. Kamu harus menempuh perjalanan yang cukup lama untuk tiba di sana kurang lebih sekitar 6 jam. Oleh karena itu usahakan sarapan dengan makanan yang bisa memberikan energi dan mengenyangkan. Kalau aku biasanya memilih pasta untuk sarapan (pasta seperti spaghetti, bukan mie instan). Pasta bisa membuatmu lebih kenyang dalam waktu yang lebih lama dan membantu menjaga kadar gula darah agar lebih stabil. 

4. Perjalanan ke Kalimati (makan siang)
Biasanya kita akan tiba di Kalimati pada sore hari. Kemungkinan kita akan makan siang di tengah jalan. Repot rasanya kalau kamu harus memasak di tengah jalan. Akan tetapi, jangan sampai karena kamu merasa repot kamu lebih memilih hanya makan camilan saja. Ingat, kita sedang beraktivitas fisik, sehingga tubuh membutuhkan asupan makanan sebagai sumber energi. Jangan menyiksa tubuhmu hanya karena kamu merasa repot. Oleh karena itu ada baiknya jika kamu sudah menyiapkan makan siangmu ketika sedang berada di Ranukumbolo. Aku pribadi, biasanya membawa tempat bekal sebagai peralatan makan bukannya piring, sehingga ketika harus makan di tengah jalan seperti ini, aku tidak perlu masak cukup makan bekal. Susun menu makanan yang tidak cepat basi dan tidak mengandung air, seperti nasi tempe, tahu, dan telor. Pokoknya makanan yang mengandung cukup karbohidrat dan protein. 

5. Kalimati (makan malam) 
Kalimati merupakan tempat perkemahan kedua setelah Ranukumbolo. Akan tetapi di sini tidak tersedia sumber air yang berlimpah. Kamu harus jalan kurang lebih 45 menit (pulang pergi) untuk ke sumber air di Sumber Mani. Oleh karena itu, selama di sini kamu bisa susun menu makanan yang tidak membutuhkan banyak air. Usahakan menu makanan cukup memberikan energi dan karbohidrat, mengingat tengah malam nanti akan melakukan pendakian menuju puncak. Menu nasi, tumis buncis, telur dadar kornet mungkin bisa dicoba untuk makan malam di Kalimati.

6. Kalimati (makan sebelum pendakian menuju puncak)
Karena akan melakukan pendakian, dan aktifitas fisik yang cukup berat, ada baiknya tidak makan makanan yang terlalu berat. Hal tersebut untuk mencegah keram perut. Kamu bisa menyusun menu makanan yang rinngat tapi bisa kasih energi cukup banyak seperti granola atau roti, ditambah minuman yang hangat. Jangan lupa untuk membawa makanan untuk pendakian ke puncak, seperti roti, biskuit, coklat, atau roti.

7. Kalimati (makan siang setelah ke puncak)
Habis bermain pasir di Mahameru, sudah pasti perut akan kelaparan. Siapkan kembali menu makanan untuk memulihkan keadaan fisikmu, karena setelah ini perjalanan dilanjutkan kembali menuju Ranukumbolo. Karena medan yang akan dilalui lebih banyak turunan, maka kamu tidak perlu makan di tengah jalan seperti saat mendaki. Kurang lebih 1,5 jam kamu sudah bisa tiba di Ranukumbolo. Sehingga, kamu cukup masak untuk makan siang saja, tidak perlu membawa bekal. Mungkin untuk teman perjalanan kamu bisa siapkan camilan saja. 

8. Ranukumbolo (makan malam)
Nah, ini adalah makan malam terakhir di Ranukumbolo. Karena persediaan air berlimpah, kamu bisa rancang menu  makanan yang mengandung air dan menghangatkan badan.

9. Ranukumbolo (sarapan dan makan siang)
Sebelum melanjutkan perjalanan, sarapan terakhir dulu di Ranukumbolo sambil menikmati sunrise di antara dua bukit. Sekalian masak sarapan sekalian masak untuk bekal makan siang. Medan perjalanan yang ditempuh untuk menuju Ranupane tidak turun melulu, ada kalanya juga harus mendaki. Kemungkinan butuh waktu untuk istirahat sejenak untuk makan siang. Daripada masak ditengah jalan, mending masak bekal dulu pagi-pagi, kan? Sebenarnya, di jalur pulang ini, di beberapa pos, warga banyak yang berjualan. Mereka jualan gorengan dan buah semangka, ada juga beberapa yang jual nasi bungkus. Jadi kamu bisa memilih apakah akan menahan lapar sampai Ranupane (hmm, kayaknya enggak, deh!), makan bekal (cukup direkomendasikan), atau jajan di pos yang akan dilewati (agak direkomendasikan, karena takutnya barang dagangan sudah habis dijual).

10. Ranupane (makan sore)
Jajan bakso hahahhaa.

Intinya, kita harus memprediksikan berapa kali kita makan dan menyiapkan menu makanan yang akan kita makan ketika sedang melakukan pendakian. Karena tubuh perlu mendapatkan asupan ketika kita beraktifitas fisik. Jangan menyiksa diri dengan menahan lapar dan menganggap makan itu tidak penting. Ibarat mobil mogok gara-gara kehabisan bensin, tubuh juga bisa mogok kalau tidak dikasih makan. Pilih makanan yang mengandung kalori dan komposisi gizi yang memadai, serta tidak asing di lidah. Dengan menyusun daftar makanan terlebih dahulu, kamu tidak harus bingung dan pusing harus masak dan makan apa ketika mendaki.

Banyak yang hilang nafsu makan ketika di gunung. Oleh karena itu teman-teman bisa pilih makanan kesukaan yang memang tidak asing di lidah, atau menambahkan sesuatu untuk menggugah selera seperti sambal (jangan kebanyakan tapi, takut sakit perut). Dengan makan makanan yang kita suka, tidak asing di lidah, dan menggugah selera maka keinginan untuk makan tetap ada. Jika nafsu makan tetap tidak ada, setidaknya ada dua atau tiga sendok makanan yang masuk ke dalam tubuh, untuk menjadi sumber energi.

Tips tambahan:
1. Buat yg suka ngemil, jangan lupa camilan macam energy bar, biskuit, atau roti, disimpan pada saku atau kantong tas yang paling mudah dijamah. Hal tersebut akan memudahkan kita ketika merasa lapat di perjalanan, bisa  langsung hap tanpa harus membuka ransel.
2. Membagi logistik bahan makanan bersama teman-teman. Menurut aku pribadi makan itu penting, jadi enggak ada masalah kalo bawa bahan makanan yang banyak. Agar tidak membebani seseorang, bahan makanan ini bisa dibawa oleh beberapa orang. Perut kenyang, semua senang.
3. Saat pendakian menuju puncak, pastikan bawa makanan dan minuman untuk kebutuhan pribadi. Jangan dititip ke orang. Karena kita gak pernah tau akan ada kejadian apa.

Mungkin segitu saja tips dari aku si pendaki gendut yang doyan makan ini  hahahhaa.
Semoga bermanfaat.