Ratu Cumi's Choice

PERJALANAN SETELAH MENDAPAT LISENSI DIVING

Setelah mendapatkan lisensi diving (menyelam)  ngapain ?  Tentu saja pergi menyelam secara berkala, minimal 6 bulan sekali.  Pertama-tama ak...

Rabu, 22 Mei 2019

Buka Puasa di Disneyland



“Ca, ke Hongkong, yuk!” ajak si Galuh Sitompul sekitar tahun 2011 lalu.

Ajakan yang sepertinya tidak bisa ada penolakan. Kenapa tiba-tiba si Galuh ini ngajakin ke Hongkong? Soalnya lagi ada promo 0 rupiah dari salah satu maskapai penerbangan berbiaya murah. Tapi berangkat dari Medan. Tiket ke Medan pun saat itu sangatlah murah pulang-pergi hanyalah Rp1.000.000. Tanpa pikir panjang, dan tanpa mengonfirmasi kapan kita akan berangkat, aku iya-in aja ajakannya.

Dan ternyata, kita berangkat di bulan puasa, dong!

Krik,, krik,, krik,,

Tapi yasudahlahyah, berangkat kita ke Hongkong. Kurang lebih lima hari kami berada di sana. Puasa, dong! Pokoknya kalau bulan puasa yang namanya ibadah harus penuh, mengingat di bulan lainnya enggak penuh-penuh amat. Walaupun di sana cuacanya lagi panas, aku tetap puasa. Gimana ngatur waktunya? Karena waktu itu smartphone aku belum canggih-canggih banget, aku ngikutin jadwal sahur dan buka di Indonesia. Cukup memantau lewat twitter, apakah ada yang ngetwit “Udah Imsaaaak!” atau “Selamat berbukan puasa!”

Hahahahah!

Salah satu destinasi incaran aku di Hongkong adalah Disneyland. Dari kecil kepingin banget ke sini!!! Kami pergi ke Disneylan di hari ke-3 kami di Hongkong. Sumpah, cuaca lagi panas banget saat itu.


Untuk bisa ke Disneylan kami harus naik kereta yang didesain khusus. Keretanya lucu banget! Soalnya, nih, bingkai kaca jendela di setiap kereta dan pegangan tangan untuk penumpang yang berdiri berbentuk Mickey Mouse.

Saat tiba di stasiun tujuan, hati aku berdegup kencang. Begitu turun dari kereta dan keluar dari stasiun, aku melihat Disneyland! OMG aku exited berlebihan dooooooong! Siapa sangka Disneyland yang aku hanya lihat di majalah Donal Bebek, ada di depan mata aku. 

Alhamdulillah rejeki orang puasa.

Jalan ke sini, jalan ke sana, main ke sini, main ke sana, neduh ke sini, dan neduh ke sana karena panas dan gerah banget. Rasanya iman mulai goyah. Tapi, aku tetap bertahan untuk berpuasa.
Soleh banget, ya, akutu.

Sampai seketika ada seorang anak kecil makan es krim di depan mataku, waktu saat itu masih jam 11 siang! Setiap anak itu melakukan gerakan menelan, aku sampai ikut-ikutan nelen ludah. Kenikmatan melahap es krim itu terpatri dalam benak aku begitu kuat. Tapi  aku bertahan, sampai adzan di Indonesia berkumandang. Adzan dzuhur tapi.

HAHAHAHHAHAHA

Iyah, payah banget akutu. Cuma bisa bersabar sampai jam 12 siang (ini juga diniatin banget, biar keitung puasa setengah hari HAHAHHAHAHA). Aduh netijen aku jangan dicontoh, ya, cukup contoh hal-hal yang baik aja, ya. Jam 12.01 WIB es krim yang tadinya hanya bisa aku nikmati di dalam kepala, langsung bisa aku nikmati di dalam mulut. Entah kapan lagi, ya, kan ke Disneyland, rasanya aku tak kuasa untuk tidak mencicipi jajanan-jajanan yang ada di sana.

Maafin Melissa, ya, Allah, jangan ditutup pintu jodohnya, ya, Allah.
Besoknya aku puasa lagi, kok! Setengah hari lagi, tapinya. Hahahaha. Sumpah kali ini akunya gak kuat sama cuaca Hongkong yang lagi panas-panasnya. Bikin pala pening, lemah, letih lesu dan tidak bergairah.

Besoknya, baru, deh, iman aku mulai terbangun kembali untuk buka puasa di adzan maghrib.
Dari pengalaman ini, aku pun mengikrarkan janji kepada diri aku sendiri enggak akan jalan-jalan kalau lagi puasa.


Kamis, 11 April 2019

Ketinggalan Pesawat Untuk Wisuda di Sumbing


Tahun lalu aku hampir drop out dari Universitas Indonesia (UI) gegara kelamaan ngerjain thesis. Sumpah, S2 aku sama lama kaya S1. Rasa malas ngerjain thesis, menunda-nunda, malas pulang-pergi Kebon Jeruk-Depok membuat progress thesis berjalan lambat. Tiba-tiba, hanya tersisa 3 bulan untuk menyelesaikan penelitian, rekap data, bikin bab 4, bab 5, sidang seminar, dan sidang thesis. Mampus, enggak, tuh?

Ada satu titik aku merasa ini semua enggak akan berhasil. Sempet, dong, aku telepon temen aku sambil nangis dan bilang, "I CAN'T MAKE IT!!" Tapi untungnya temen aku itu cukup membantu dan menenangkan, sehingga ke-drama-an ini bisa ditunda dan kembali mengerjakan serta memperjuangkan apa yang harus diselesaikan.

Satu sisi aku merasa depresi, tapi di sisi lain aku enggak bisa kalau memutuskan untuk menyerah. Ketika mulai putus asa, aku selalu ingat niat awal mengapa aku mengambil studi ini dan ingat mama  yang mungkin menitik sebuah harapan kepadaku. Untuk mengantisipasi munculnya rasa kecewa, aku sempat bertanya kepada mama, "Kalau ade enggak lulus gimana, Ma?" Saat itu jawabannya cukup menenangkan, "Ya, sudah, enggak apa-apa yang penting sudah usaha."

Akhirnya aku benar-benar coba semampunya. Dengan segala kemampuan yang ada, aku selesaikan satu-satu hingga akhirnya aku pun dinyatakan tidak lulus sidang thesis :'(

Sedih? Pasti. Drop? Pasti. Tapi enggak lama-lama, soalnya aku dikasih waktu 10 hari untuk merevisi thesis agar bisa lulus. Yang namanya banting tulang, tuh, aku representasikan di masa-masa ini. Apapun yang terjadi pokoknya harus bisa selesai sesuai tenggat waktu yang diberikan. Tapi apa yang terjadi? Aku berhasil menyelesaikan, namun melewati batas waktu yang ditentukan. :(

Kacau, deh, pokoknya. Aku melewati hari demi hari menuju pengumuman kelulusan dengan perasaan tidak menentu. Resah, gelisah, seperti dikejar sesuatu tapi enggak keliatan sesuatunya itu apa.

Hingga akhirnya, saat aku cek Web UI, ada pengumuman:





Waktu itu aku langsung teriak bahagia, mengucap syukur, dan menyebar kabar kepada pihak-pihak yang selama ini memberi bantuan, dukungan, semangat, serta menunggu kabar kapan aku lulus (tentunya selain kabar kapan aku nikah hahahaha)

Perasaan bahagia ini tuh, enggak bisa dibendung lagi. Rasanya puas, lega, MERDEKA!!!!!!!!!!

Begitu toga ada di dalam genggaman, maka akupun segera merencanakan pendakian dalam rangka merayakan kelulusan. Pilihannya jatuh ke Gunung Sumbing. Segeralah aku beli tiket pesawat Jakarta-Yogyakarta (PP) perjalanan pun dilakukan tanggal 16 Agustus 2018.

Waktu itu aku ikut open trip yang dibikin sama temen aku yang namanya Docae. Ini trip termewah yang pernah aku ikutin. Pokoknya cukup bawa badan dan perlengkapan pribadi. Pokoknya hike like a princess banget!

Hari H pun datang. Lantas apa yang terjadi? AKU KETINGGALAN PESAWAT, DONG!
Wah, geblek banget, deh! Aku, tuh, kayaknya emang dikutuk selalu terburu-buru dan menunda-nunda. Aku nyampe bandara, pesawat udah siap take off!

"Mba, enggak bisa disuruh tunggu aja? Saya lari, deh, ke landasan!"
Anak sultan kali, ah, minta pesawat nungguin. Tentu saja permintaan enggak masuk akal ini ditolak mentah-mentah sama petugasnya.

Udah, mah, gerah banget, lari-lari, bawa kerir, style udah anak gunung banget, eh, ketinggalan pesawat!

Nyerah? Enggak! Gengsi, karena sebelum berangkat aku bikin vlog perdana tentang packing peralatan pendakian dalam rangka mau naik Gunung Sumbing (HAHAHAHHA MAKAN TUH GENGSI)

Gue pergi dari terminal ke terminal di Cengkareng untuk mencari maskapai yang available. Semua full karena long weekend. Adanya Garuda, tapi tiketnya 4 juta! Gila, bukan anak sultan akutu sampe harus beli tiket pesawat 4 juta cuma buat naik Gunung Sumbing.

Akhirnya aku telepon temenku, "BANG KALAU GUE BELI TIKET 4 JUTA BUAT KE SANA, POKOKNYA, LU, MUSTI BAWA GUE KE PUNCAK BUAT FOTO PAKE TOGA!"


Dia ketawa sambil meng-iya-kan, pokoknya yang penting aku nyampe dulu ke Yogya. Lalu apa aku beli tiket 4 juta? ENGGAK, LAH! Gila kali. Masih menggunakan akal sehat aku beli tiket Garuda (seharga 1 jutaan :'( ) ke arah Solo, kemudian dari bandara solo naik Gojek ke stasiun dan lanjut ke Jogja naik kereta. Yah, lumayan, lah, daripada 4 juta!

Singkat cerita, aku berhasil kumpul bersama tim. AKHIRNYAAA!

Kami naik dari jalur Garung. Menuju pos 1 naik ojek. Ini ojek bukan sembarang ojek, karena kita naiknya di depan, bo! Ini enggak aman-aman banget, sih, motor aku aja sempet tabrakan sama motor yang lagi turun. Emang ada aja ya kisah di hidup akutu... (Video naik ojek bisa klik ini!)

Menu pertama pendakian mirip-mirip sama Sindoro. Aku bergerak lambat seperti biasa hahaha. Gegabah emang enggak pake latihan fisik. Apalagi waktu lewat engkol-engkolan! Beuh!!!! Mana pas lagi mendaki lagi musim kemarau, debunya mana tahaaaaaaaaan~~~~~

Enggak lama mendaki, eh, udah nyampe di Pos 3. Kayaknya sekitar jam 1 apa jam 2, gitu, lupa. Leyeh-leyeh, dah, tuh. Makan siang, makan buah, bobo siang, rumpi siang, tawa-tiwi.
 Ketawanya enggak beres-beres, gegara ternyata celana aku sobek, dong! Mana celana dalem akutu warnanya tosca mentereng, wah, jadi banget bahan becandaan. Entah nyangkut di mana ampe bisa sobek kayak gini, kepaksa, deh, jahit celana, ditemani sunset yang indah banget berlatar Gunung Sindoro. Mantep.

Besok paginya kita summit attack, buset, dah, loyo banget! Jalan sepetak-petak kayak siput. mana jalurnya pasir empuk kaya punya Semeru. Heu heu heu...

Nyampe puncak? Enggak! AHHAHAAHAHAHHAHA

FOTO MESRA ALA-ALA SAMA SI AWAN
Gila, capek banget! Waktu itu aku bilang ke si Awan (my buddy system), "Wan kayaknya enggak akan sempet, nih, kalo ke puncak. Udah capek banget juga, di sini aja, deh, foto pake toga-nya."

Iya, waktu itu bukan puncak targetnya, tapi foto pake toga di gunung HAHAHAHAHHAHA. (MY TRIP, MY RULES!)

ADA YANG MINTA FOTO BARENG!

Iya, karena enggak tau pasti jadwal, aku tuh beli tiket pesawat di hari yang sama dengan aku turun gunung. Jadi enggak bisa santai-santai. Semuanya diburu waktu.

Kira-kira aku sempet ngejar pesawat pulang,  enggak?

TENTU AJA, ENGGAK!



Lagi-lagi aku tiba di bandara saat pesawat udah siap take off. Krik krik krik...
Akhirnya, aku pulang keesokan harinya naik kereta.

APESSSSS!!!!!!!

Nilai moral yang bisa diambil dari cerita ini adalah: PENTINGNYA MANAJEMEN WAKTU DALAM KEHIDUPAN.

Kamis, 04 April 2019

Dipermainkan Babi di Sindoro

Lagi Nungguin Diera




Mari kita mulai tulisan ini dengan menyebut nama Diera. Ya, si Diera ini sobat misqueenque yang tiba-tiba kasih kabar dia mau naik Gunung Sindoro (kejadiannya Maret, 2018). Selain kasih kabar, dia juga berniat untuk menyewa peralatan kampingku (iya, FYI, aja, nih, akutu nyewain peralatan kamping dengan harga bersahabat, hohoho).


Pas dengar kabar ini, aku pengin ikut. Tapi, aku (saat itu) lagi dikejar deadline thesis yang sudah di ujung Drop Out, hehehe. Sehingga yang aku bisa lakukan hanyalah memastikan peralatan Diera lengkap dan dia pergi dengan teman-temannya yang sudah biasa naik gunung-berpengalaman.

Eh, enggak lama, datang kabar lanjutan bahwa ketua kelompoknya, yang mana yang paling berpengalaman, batal ikut. Tapi karena timnya Diera udah siap berangkat, mereka akan tetap berangkat. Si Diera ini bilang, "Santai aja, gue, kan, anak gunung." Hmmmm....

Entah kenapa gara-gara Diera bilang gitu, setiba-tiba aku memutuskan untuk ikut. Aku langsung buka aplikasi pembelian tiket, dan aku beli tiket pesawat saat itu juga. Iya, tiket pesawat, lho, demi pergi sama Diera. Aku pun memberi dia beberapa list perlengkapan yang harus dibawa dan aku minta itinerary yang sudah dibuat oleh tim.

Singkat kata, pesawat aku tiba di Jogja. Aku dan rombongan Diera janjian di Malioboro. Aku tiba duluan, dan memutuskan sarapan di restoran cepat saji berlambang huruf M. Enggak lama, rombongan Diera datang. Dari hasil berbagi cerita, teman-teman ini tidak begitu sering naik gunung.

Saat cek list perlengkapan, ada yang enggak bawa matras dan begitupun flysheet-yang mana ini adalah peralatan kelompok. Sehingga kami pun berkeliling terlebih dahulu mencari tempat penyewaan untuk melengkapi perlengkapan. Menyambangi satu-dua tempat gagal, aku lupa alasannya apa. Waktu semakin siang, sehingga banyak yang bilang enggak usah bawa flysheet. Tapi aku keukeuh kita harus bawa. Feeling aja ini, mah.

Akhirnya kita dapat di salah satu tempat yang baru buka jam 9. Kami pun melengkapi perlengkapan, sarapan, dan tancap gas menuju basecamp Sindoro di daerah Kledung, Temanggung, Jawa Tengah. Waktu tempuh 3 jam, sehingga sekitar jam 12 siang kita sampai di tempat tujuan. Packing ulang barang bawaan, isoma, pesan ojek, titip barang yang enggak akan dibawa, sehingga perjalanan pun baru mulai pukul 14.00 WIB.

Menuju Pos 1 Gunung Sindoro ada dua cara, naik ojek dengan ongkos Rp25.000 dan trek yang yahud, atau jalan santai sekitar 2 jam. Ya, kami, sih, memilih naik ojek, lah, ya... Mayan, diantar sampai warung yang berada di antara Pos 1 dan Pos 2.

Waktu naik ojek cerah. Turun dari ojek juga cerah. Pas berdoa mau mulai pendakian mulai mendung. Baru jalan 5 menit hujan. Bongkar tas dulu, deh, buat pakai jas hujan kresek. Duh, hujannya enggak tanggung-tanggung, deres, bo! Mana trek Sindoro ini baru mulai langsung nanjak, air terjun mini pun tercipta sepanjang jalur. (Klik buat liat videonya)

Aku yang pergi tanpa latihan fisik ini terseok-seok di langkah pertama. Kaya mesin  mobil butut yang belum panas gitu. Hahehoh, deh, pokoknya. Tapi si Diera ini menjadi buddy system, katanya, "Santai aja, Mel, gue tungguin." Kami terpisah dengan rombongan yang jalan dengan sangat lincah. Tak apalah. Eh, enggak lama pas mesin udah lama, "Tungguin gue, Mel!" Hahahahaha... memang kita, tuh, saling melengkapi.

Pos demi pos dilewati, hujan pun tak kunjung henti. Dingin, kabut, basah, capek, lelah. Saat bertemu di satu titik (aku lupa di mana) kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Pos 3 dan berhenti kalau sudah tiba waktu maghrib. Tenda dibawa oleh dua orang, satu dibawa tim yang berjalan di depan dan satu lagi dibawa Diera. Pokoknya begitu sampai, yang pertama harus dilakukan adalah membuat tenda.

Hujan deras pun sempat berganti dengan gerimis ketika hampir sampai Pos 3. Aku sempat mengucap syukur, tapi di dalam hati ini rasanya udah enggak karuan, Diera pun sudah terlihat lelah. Ketika maghrib tiba aku dan Diera pun beristirahat di jalur. Nampaknya kami pendaki terakhir, karena selama perjalanan tidak ada yang menyusul kami. Untungnya letak Pos 3 tak lama dari tempat kami beristirahat.

Begitu sampai, teman-teman sedang mendirikan tenda, hujan mulai turun lagi. Tapi, nih, mereka mendirikan tenda di tempat miring, dan layer dalemnya dulu tanpa ditutupi si layer luarnya. Kan, lagi hujan, ya, basah cyin tendanya. Cepat-cepat revisi dan cari bidang datar. Karena kita rombongan terakhir, kita kebagian lapak paling ujung, enggak ada pohon yang bisa diikat flysheet, dan tanahnya keras banget. Susah buat pasang pasak.

Hujan turun makin menjadi-jadi, tenda belum jadi. Duh, aku sampai putus asa dan nangis. Kalau tenda gagal berdiri, bisa gawat banget. Akhirnya pasak ditanem seadanya. Flysheet pun dipasang seadanya-disangga oleh satu trekking pole punyaku. Bangun tenda dome yang biasanya cuma 15 menit pun jadi 1 jam lebih :'(.

Ini baru tendaku, belum lagi tendanya Diera. Diera pake tenda aku yang jenis tunnel, yang mana dua kali lebih ribet masangnya daripada tenda dome. Ni anak udah dibilangin sebelum berangkat latihan bikin tenda malah enggak dan ngegampangin. Alhasil kesulitan ngebangun tenda ini jadi lebih susah berkali-kali lipat.

Daripada kesal aku milih buat bikin makanan di tendaku yang reyot di bawah flysheet yang ringkih. Sangking ringkihnya, tiap kesenggol roboh :'( . Aku dibantu oleh salah seorang anggota tim, enggak usah repot-repot, deh, ya, masak mie instan aja dulu. Soalnya hujannya enggak santai, angin pun makin kencang. Mimpi buruk, deh, pokoknya.

Si teman yang membantu ini sedikit melamun, dia menuangkan air tanpa memegang misting. Apa yang terjadi selanjutnya? Misting pun tergelincir dari kompor, air yang dia tuangkan pun dengan suksesnya dituang ke sumbu kompor. KRIK KRIK KRIK KRIK KRIK. Dia cuma bisa teriak sambil bilang sori.

Kompor ini enggak butuh korek untuk menyalakan api. Tapi gara-gara dibanjur air jadi enggak bisa nyala. Semua korek api enggak bisa dipake karena udara lembab banget. Duh, Ya Alloh, pingin pulang rasanya. Untungnya di Pos 3 Sindoro ini ada warung, jadinya kita beli mie instan dari sana.

Beres makan, ganti baju, siap tidur. Tapi boro-boro bisa tidur, dingin banget. Laper. Salah seorang temanku pun terkena maag karena telat makan dan dia pun muntah *tepok jidad*. Kita enggak bisa keluar karena di luar masih hujan. Peralatan masak pun di luar tenda hanya ditutupi sekenanya. Terlalu lelah untuk bersih-bersih, sepertinya enggak ada yang peduli juga.

Dini hari hujan mulai reda, kami belum ada yang berhasil tidur. Bukannya tenang, kami makin panik, gangguan lain pun datang. Apa itu? Segerombolan BABI HUTAN! Mereka datang mengelilingi tenda kami. Huhuhuhu.

"Kak, Mel, gimana, nih?"
"Yaudah, gue usir, deh," sambil siap buka pintu tenda.

Tapi tiba-tiba kepikiran, gimana kalau babinya besar? Gimana nanti kalau aku liat-liatan sama babinya? Gimana kalau nanti babinya nyeruduk? Gimana kalau nanti babinya masuk ke tenda. Akhirnya keberanian pun berubah jadi rasa ciut. HAHAHAHA.

Kita hanya berani mengusir babi pake suara dari dalam tenda. Kita juga teriak-teriak ngebangunin si Diera, tapi cuma dijawab pakai suara ngorok yang enggak jauh beda sama suara babi. Si babi ini dengan senangnya mengobrak abrik dapur umum kami. Akhirnya kita memutuskan untuk cuek, tapi si babi ini bergerak memutari tenda. Badannya sering terasa di kaki ketika dia melewati tenda. huhuhuhu.

Serangan babi selesai, lalu kemudian hujan lagi. Huhuhu

"Fixed, aku, enggak akan muncak. Belum makan, belum tidur, belum istirahat, badai, kayaknya aku menyarankan kalian enggak muncak juga, tapi terserah kalau mau juga enggak apa-apa," kataku malam itu. Iya, niat aku untuk ke puncak sudah enggak ada. Aku hanya mau pulang. Mental sudah memble. Yang lain pun sepertinya sama.

Hujan terus berlanjut sampai pagi, keadaan diperburuk dengan air yang masuk ke dalam tenda. Kita duduk berdekatan menghindari air. Lalu kemudian apa yang terjadi? Tenda kami bergerak berputar secara perlahan (bayangkan putaran jalur larinya binatang hamster, seperti itu lah kira-kira). Pintu tenda naik sampai ke atas. Ukuran tenda pun jadi mengecil dan  bentuknya tidak beraturan.

Kami berteriak kepada Diera untuk melihat tenda kami, kami untuk bergerak pun sulit, karena tenda jadi mengecil. Ketika dia keluar, dia tertawa. Bentuk tenda lebih enggak karuan kalau dilihat dari luar. Kita jadi ikut tertawa prihatin. Pelan-pelan, dibantu Diera dari luar, kita bergerak agar tenda bisa kembali ke posisi semula. Fixed pasaknya udah pada lepas semalam.

Jam 6 hujan masih turun, jam 7, jam 8, dan akhirnya jam 9 hanyalah kabut yang tersisa, kami semua keluar dari tenda. Terkejut dengan peralatan kami yang porak poranda oleh babi, tenda yang tidak karuan, dan lelah yang belum terobati. Bukan hanya kami yang gagal ke puncak, hampir semua pendaki tidak ada yang naik.

Aku coba kembali menyalakan kompor dengan bantuan korek. Alhamdulillah banget bisa nyala lagi. Perbekalan pun dibongkar, masak, dan sarapan. Dengan segera kami pun berkemas untuk pulang, takut hujan turun lagi.

Perjalanan turun tidak begitu mengkhawatirkan walau hujan turun di tengah jalan. Rasanya aku bersyukur banget bisa kembali ke basecamp.

"Lu pulang bareng kita, kan, Mel?" kata Diera.
"Yoi, tapi gue gerbong executive," jawabku.
"Emang masih ada, ya, kok, kemarin gue liat udah habis?" tanya Diera.
"Ada, dooong, gue gitu, loh," jawab aku dengan bangga.

Lalu kami pun bergerak menuju stasiun kereta (aku lupa apa nama stasiunnya). Kami tiba malam hari jam 10-an, sementara kereta kami jam 1 pagi keesokan harinya. Si Diera, pas mau check in pake diketik segala nomer booking-nya. Lalu aku bilang, "Yaelah, Dir, di scan aja kali," seraya aku scan barcode-nya.

Lalu apa yang terjadi?
Muncul tulisan:
MAAF, ANDA SUDAH TIDAK BISA MENCETAK TIKET

HAHHHHHHHH?
Aku coba berkali-kali ternyata gak bisa. Pas aku cek lagi, ASTAGA NAGAAAAA!!!!!!!!
Ternyata aku salah tanggal. Misal, nih, aku mustinya beli untuk tanggal 2 jam 1 pagi, aku malah beli untuk tanggal 1 (hari di mana aku turun gunung) jam 1 pagi (yang mana aku masih di atas, dan lagi dipermainkan babi di Sindoro).

PANIK PARAH!!!
Mana harus kerja lagi. Nyari tiket yang tersedia hanya jam 10 pagi di tanggal 2. Huhuhuhu.
Ketika teman-teman aku pulang, aku terpaksa bermalam di stasiun kereta.

Apes, dah!

Ratucumi
 

Kamis, 21 Februari 2019

Namanya Gendon


Jadi aku punya sosok fantasi, namanya Gendon. Mungkin beberapa orang yang membaca tulisan ini akan langsung terpanggil memorinya kepada seseorang. Tapi bukan. Sosok Gendon ini ciptaan aku, seseorang yang selalu bisa membuat aku nyaman seperti sedang berada di dalam rumah.

Kenapa namanya Gendon? Kenapa enggak yang lain saja? Karena nama Gendon ini memang cukup membekas di hati. Hampir mendekati sosok yang sesuai dengan imajinasi aku.

Gendon ini sosok di pikiran aku. Jadi kalau aku lagi kesepian kadang-kadang aku menghadirkan sosok Gendon ini di dalam pikiran aku. Tak berupa, tak berwujud, kasat mata, tapi bukan teman khayalan. Gendon itu aku versi pikiranku sendiri. Gendon itu Melissa.

Jadi aku ini sering ke mana-mana sendirian, nah, biar enggak merasa sendiri-sendiri banget aku ciptakanlah si Gendon ini. Misal kalau aku ke supermarket mau belanja, aku ngobrol sama diri aku sendiri. Alih-alih menamakannya Melissa, aku menamakannya Gendon.

Semoga kalian paham, ya, dengan kerumitan aku hahahahhaa.

Gendon ini penyemangat aku di segala suasana. Kalau aku bingung, patah semangat, Gendon ini akan memberikan masukan dan membakar kembali semangat yang ada. Gendon selalu bilang, “Ayo, Melissa, kamu bisa. Kalau enggak sekarang kapan lagi.”

Nah, kalau aku beli barang untuk diri aku sendiri, aku anggap itu dari Gendon. Sehingga apa yang aku mau Gendon ini selalu kasih, enggak pernah salah, dan selalu sesuai dengan yang aku mau. Jauh dari apa yang namanya kecewa.

Sempat, nih, aku mau menghidupkan sosok Gendon di orang lain. Tapi ternyata enggak bisa. Karena yang namanya manusia itu punya raga dan pemikiran individu. Tidak bisa dibentuk sesuai dengan keinginan kita. Mereka punya cara sendiri untuk menjalani hidup, tidak bisa disamakan dengan cara aku, maupun cara Gendon.
Mungkin aku dan Gendon punya cara yang sama. Karena kembali lagi, Gendon adalah aku. Semuanya sesuai dengan keinginan aku.

Apakah Gendon ini sebagai bukti bahwa aku tidak bisa move on? Bukan. Justru Gendon ini pengingat bahwa yang bisa sesuai dengan keinginan dan pemikiran aku itu hanyalah diri aku sendiri. Aku tidak punya hak sedikitpun kepada individu lain untuk membentuknya sesuai dengan apa yang aku mau. Setiap orang itu adalah individu yang memiliki kebebasan, kemerdekaan, atas diri mereka sendiri.
Cukuplah aku mengatur diri aku sendiri sesuai dengan keinginanku. Tapi biar enggak merasa sendirian dan kesepian maka aku ciptakan Gendon.

Begitulah. Kadang hidup ini kayak permainan.

Minggu, 24 Juni 2018

Tips Menulis Catatan Perjalanan Ala Ratucumi


Minat baca di Indonesia disebut masih rendah, yaitu menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara. Jangankan baca buku atau artikel, terkadang orang yang hobi banget pantengin media sosial aja lebih suka liat gambar atau videonya aja tanpa baca captionnya apa. Padahal beberapa orang-termasuk aku-memberi kekuatan pada gambar dan video melalui sebuah caption.

Aku dulu mungkin bagian dari mereka yang minat bacanya kurang. Akan tetapi pekerjaan aku menuntut aku untuk harus suka baca. Hukum alamnya menjadi seorang penulis, ya, harus suka baca. Surat kabar yang tadinya cuma diliat judul dan fotonya aja, sekarang aku telan bulat-bulat kumpulan huruf yang ada.

Pun, dalam Islam wahyu pertama dimulai dengan perintah Iqra (bacalah).

Tulisan itu menjadi penting jika disandingkan dengan sebuah gambar. Apalagi jika terkait dengan sebuah perjalanan.

Dalam dunia jurnalistik, catatan perjalanan merupakan bagian dari feature. Ceritanya tidak akan habis tergerus waktu dan akan tetap menarik untuk dibaca hingga kapanpun. Gaya tulisannya bisa dengan bahasa yang berbunga-bunga, menggunakan aneka majas, dan hal-hal lain yang bisa merepresentasikan suasana hati.

Saat ini catatan perjalanan sudah mulai tidak diminati semenjak adanya video perjalanan. Tapi satu hal yang tidak bisa tergantikan adalah kelengkapan informasi dari sebuah perjalanan dan sudut pandang si penulis yang bisa membawa pembaca seolah-olah menjadi sosok utamanya. Kita pun tidak akan mengetahui tentang Jalan Sutera jika Marco Polo tidak mengisahkannya dalam sebuah catatan perjalanan.

Nah, salah satu kesulitan utama menulis catatan perjalanan adalah memulainya. Ya, awal sebuah penulisan memang sangat sulit. Tapi untuk mempermudah teman-teman bisa memulai dengan memaparkan apa yang teman-teman lihat ketika pertama kali memulai perjalanan.

Misal:
Dari balik kaca jendela mobil yang aku tumpangi aku sudah bisa melihat kegagahan Gunung Merapi. Gunung yang sempat batuk beberapa tahun silam yang ....

Berikan info singkat tentang destinasi yang kita datangi. Karena sesungguhnya pembaca sangat menyukai jika apa yang dibaca bisa memberikan informasi tambahan untuk kehidupannya.

Mulai tinggalkan membuat catatan perjalanan seperti buku diary. Karena sejujurnya bukan kegiatan sehari-hari yang ingin diketahui oleh pembaca. Bisa hasilkan sebua tulisan yang mengandung asa dan rasa. Biasanya ketika kita memiliki emosi tersendiri dari suatu perjalanan dan kita tuangkan itu semua dalam sebuah tulisan, pembaca akan merasakan setitik emosi yang kita rasakan.        

Jika ingin memasukan info tentang transportasi, harga, kontak, akan lebih baik dibuat di luar tulisan. Bisa dibubuhkan setelah tulisan berakhir.

Sebuah catatan perjalanan akan menjadi lebih menarik jika disertai dengan foto. Karena ketika membaca sebuah catatan perjalanan, pembaca akan berimajinasi dengan bacaannya. Foto akan memandu imajinasi tersebut.

Tips:
  1. Jangan ragu untuk mulai tulisan. Tulis saja dulu apa yang kita mau tulis. Tak mengapa jika ada tahap selanjutnya untuk memperbaiki tulisan  kita sebelum di publish di blog masing-masing. 
  2. Baca ulang tulisan kita. Untuk mencegah apakah tulisan kita nyambung atau tidak, dan mengecek ada typo atau tidak.
  3. Banyak baca. Kita tidak akan menghasilkan tulisan yang baik jika kita tidak suka membaca. Dari membaca beragam buku, kita akan mendapat banyak referensi untuk gaya bahasa dan penulisan.
  4. Ketika mengunjungi suatu destinasi, sempatkan mengobrol dengan orang sekitar.
  5. Hasilkan tulisan yang setidaknya kamu juga ingin baca, karena tulisanmu busa menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan.

Sebuah quotes mengatakan,
"Writing is underestimated art, you are painting colorful images in people minds bu using words of black and white."

Selamat menulis!

Kamis, 21 Juni 2018

Membunuh Sepi

Ketika yang ada pergi, mungkin akan tercipta sepi.
Namun, apa harus terjebak dengan rasa sepi?
Sepi itu hanya rasa yang diciptakan oleh diri sendiri.

Lautan pun sesaat memiliki riak ombak memecah ketenangan.
Hutan pun memiliki gemuruh angin untuk mengusik keheningan.
Manusia pun memiliki asa untuk beranjak pergi dari kesepian.

-21 Juni 2018-

Rabu, 20 Juni 2018

Perjalanan (Di) 30 Tahun





30 September 2016, aku berusia 30 tahun.

Beberapa saat sebelum aku menginjak usia ini aku galau parah.

Kenapa?

Yang pertama, sih, jelas di umur segini teman-temanku yang lain sudah pada gendong anak. Ada yang udah gendong dua malahan. Aku? Ketika buka mata masih sendirian  dan berada di dalam kosanku yang berantakan di Kebon Jeruk.

Kedua, tidak ada kebaharuan dalam kehidupanku. Masih sama saja dengan kehidupanku saat aku berusia 29. Masih jadi wartawan di media anak-anak. Masih bangun siang. Masih (saat itu) pacaran dengan dia yang entah ke mana arahnya. Singkatnya, semua terasa MONOTON.

Ketiga. Bagi perempuan 30 tahun itu krusial. Lagi ranum-ranumnya. Segala kerasa. Mudah letih, lelah, lesu, bahkan adrenalin yang menggebu-gebu pun mulai terkikis. Harus nyaman dan segala teratur dengan baik. Yang paling parah, konon metabolisme tubuh pun sudah mulai lambat. Yang artinya, akan makin sulit untuk membakar lemak.

No. No. No.
Saat itu aku ingin mematahkan dan mengubur dalam-dalam perasaan galau ini. Aku enggak mau menjadi (semakin) tua dengan beragam keluhan yang tak pasti.

Maka:

"Aku pas ulang tahun mau naik gunung!" Ujarku kepada si pacar (saat itu).
"Ke mana?"
"Lawu."
"Oke."

Terucap begitu saja, karena baru liat tentang Lawu di IG. Aku segera mengumpulkan pasukan dan membentuk grup WA "Gunung Lawu".

Ya, seimpulsif itu dan segerak cepat itu. Langsung cari tiket kereta api. Siapin perlengkapan. Latihan fisik. Cerewet di grup wasap biar orang-orang juga siapin fisik dan peralatannya.

Dan tanggal 30 September 2016 pun aku berada di kereta api menuju Madiun. Tepat pukul 12 malam, pergantian malam ke tanggal 1 Oktober, aku tiup lilin bersama temenku si Puput. Ya, kami lahir cuma beda sehari hahaha.

Saat itu titik kumpul kami di Madiun. Kebetulan salah satu temanku lagi tugas di Madiun. Kita kumpul di rumahnya kemudian kita road trip ke Cemoro Sewu.


Tim kami sembilan orang saat itu, empat laki-laki dan lima perempuan. Setelah memastikan semua peralatan lengkap, dan perijinan beres diurus, pendakian pun dimulai.

Medan Gunung Lawu berbatu, mengingatkanku dengan jalur pendakian Taman Nasional Gunung Gede Pangrago via Cibodas. Tracknya panjaaaaaang banget.

Jam 12 kita tertib istirahat makan siang (padahal pos 1 aja belum). Kita istirahat di salah satu bidang lapang dan ada pos di sana. Entah pos apa, ada ibu-ibu dagang gorengan di gembolan.

Kita pun bongkar makan siang. Bahkan pasang hammock segala. Abis makan leyeh-leyeh sejenak sambil hammock-an. Cuaca panas banget saat itu, makannya hammock-an di bawah pohon rasanya enggak bisa dibiarkan begitu saja.

Setelah semua siap kita kembali mendaki. Saat itu salah satu teman perempuanku mulai kelelahan. Dia berjalan mulai lambat di belakang. Tapi tak masalah. Tak ada yang dikejar yang penting semua sehat dan selamat.

Aku dan ketiga teman perempuanku jalan cukup cepat sambil ngobrol haha hihi. Gak lama si Puput menyusul dan jalan bersama kami. Lambat laun cuaca berubah. Yang tadinya panas terik tak tertandingi menjadi mendung kelabu. Tak diragukan, hujan akan segera turun.

Benar saja, belum tiba di pos 2, hujan turun sangat deras. Aku lupa kejadiannya bagaimana tetiba kami terpisah-pisah. Temanku dua di depan. Aku sendiri di tengah. Dan sisanya di belakangku.

Aku tuh ragu jalan maju sendirian atau tunggu teman (yang cukup jauh di belakang). Akhirnya aku diam di bawah hujan sendirian. Setelah aku melihat jas hujan temanku samar-samar di belakang. Aku langsung maju jalan.

Hujannya enggak ramah. Rintiknya enggak romantis. Pake angin segala. Kacamataku berembun. Sulit rasanya aku berjalan. Dikit-dikit aku tengok temanku di belakang.
Alhamdulillah banget ternyata aku tidak jauh dari pos 2.

Banyak pendaki berteduh di sana. Penuuuuuuh banget. Aku melihat keberadaan dua temanku di sana. Kemudian satu persatu pun berkumpul. Namun, kelompokku kurang dua orang. Si temanku perempuan yang kelelahan dan pacarku (saat itu).

Sejam lebih tidak kunjung datang. Bahkan pendaki lain sudah tiba. Aku selalu bertanya keberadaan keduanya. Kata pendaki yang melihat, mereka sedang jalan pelan tapi cukup jauh. Beberapa saat kemudian mereka pun datang. Keadaan teman perempuanku menggigil kedinginan, mukanya pucat. Kami menggigil kedinginan dia dua kali lebih kedinginan. Untungnya pos cukup padat saat itu. Pendaki tumplek blek jadi satu, ada yang bikin air hangat lalu digilir untuk diminum.

Ini mengapa aku suka mendaki. Tak kenal tapi saling mengasihi. Semua teman. Semua kawan.

Hujan tidak main-main kala itu, jalur di hadapan kami jadi tampak seperti air terjun. Kami terjebak berjam-jam di sana. Tak bisa melanjutkan perjalanan. Beberapa tim memutuskan untuk kembali turun. Mustahil katanya.

Aku akhirnya bermusyawarah (kamana atuh bermusyawarah) dengan teman-temanku dan memutuskan untuk tetap menunggu badai berlalu dan melanjutkan perjalanan. Ya, target kami saat itu puncak. Aku mengatur strategi. Kami akan berjalan dua-dua, menggunakan buddy system. Membagi rata kekuatan yang ada. Dua orang yang bisa berjalan dengan cepat aku minta jalan di depan membawa tenda. Aku dan rekan-rekan yang berjalan pelan  tapi pasti di tengah. Temanku yang kelelahan berjalan di paling belakang. Tenang, dia tidak jalan sendirian. Dia jalan bersama dia yang paling mumpuni di dalam tim ini. Yang dia adalah !#/))#*^#@*(@*@/@€(@) (maaf sinyal hilang).

Tak lama berjalan kami tiba di pos 3. Hujan sudah berhenti tapi dingin tak tertahankan. Bergerak cepat bangun tenda dan memasak makan malam. Salah satu temanku tiba-tiba terdiam saat itu. Aku pikir dia kesurupan! Soalnya dia melepas genggamannya yang lagi memegang tiang tenda.

“Wan, are you oke?” tanyaku.
Dia balik badan sambil bilang, “gue kedinginan, Mel.”

Air belum masak, Ridwan kedinginan. Aku bingung. Teman-teman sibuk bikin tenda. Tapi tenang, aku bingungnya gak kelamaan. Aku peluk tuh si Ridwan. Tangannya gue genggam terus digosok-gosok sampe anget. Alhamdulillah banget, nih, si Ridwan gak lama skip-nya. Dia mulai hangat dan bisa bikin tenda lagi.

Enggak lama rombongan terakhir datang. Temanku yang kelelahan segera diminta ganti baju. Menghangatkan diri. Aku masak sayuran berkuah saat itu. Hangat dan nikmat. Kata orang-orang enak. Entah karena lapar atau emang gak ada makanan lagi itu ya hahahaha.

Ketika aku mau istirahat, aku selalu mendengar ada pendaki lewat. Banyaaaaaaaaaaaaaaak banget gak berhenti-berhenti. Katanya malam itu malam satu suro. Banyak orang datang ke puncak Gunung Lawu untuk melakukan ritual mandi di Sendang Drajat.

Pas aku kebelet pipis, aku keluar tenda sama temanku. Pas balik aku liat ada bapak-bapak pake baju serba putih lagi diem di ujung kumpulan tenda rombongan kami. Aku bilang ke temanku mereka ngeliat apa enggak. Mereka bilang mereka liat, jadi yaudah didiemin aja. Toh, enggak ganggu juga. Kami pun tertidur.

Kami semua bangun siang kelelahan. Gak ada yang pingin buru-buru ke puncak saat itu. Lagian di puncak rame orang malam satu suro-an. Kami pun memutuskan jam 9 baru muncak.

Rencana awal kami akan turun via Cemoro Kandang. Tapi melihat temanku yang sudah kelelahan dan gak sanggup jalan lagi, kami pun memutuskan kembali lewat Cemoro Sewu. Walau temanku sudah pulih dari kelelahan, tapi dia memutuskan tidak ikut ke puncak dan diam di camp.

Kami ke puncak berdelapan. Jalan dua-dua, pelan tapi pasti, rapih jali, foto sana, foto sini. Aku lupa tepatnya jam berapa, tapi kayaknya sebelum jam 12 sudah tiba di puncak.

Aku bersyukur saat itu. Aku di umur aku yang sudah 30 tahun, badan gendut, rambut bau tapi ketek tetep wangi, berhasil berdiri di 3265 mdpl. Puncak ke-12.

Setelah sampai di puncak, target pun berubah. Pulang ke rumah dengan selamat. 

Hujan mulai rintik. Tak langsung menuju pos 3 kami makan pecel dulu dooong di Mbok Yem. Warung pecel tertinggi kayaknya, nih. Penuuuuuh banget warung pecelnya. Pas lagi ngantri pecel, ujan deres lagi, dong. Semua numplek blek lagi di warung ini. Dingin, cape, untungnya perut kenyang. Begitu hujan reda sedikit kita pun tancap gas ke pos 3.

Sampai pos 3 segera packing. Cuaca tak bersabat. Kabut, gelap, dingin. Hujan akan kembali turun saat itu. Aku selesai packing duluan. Aku mengajak teman perempuanku yang lelah untuk jalan duluan pelan-pelan. Sayangnya dia memutuskan untuk memakai sendal gunung, berikut kaos kakinya dibungkus lagi pake plastik. Ini sangat amat tidak disarankan karena pasti licin. Apalagi hujan akan turun kembali. Udah dikasih tau keukeuh, yasudah.


Aku bilang untuk perhatikan langkah kakiku. Ikutin. Aku akan jalan pelan-pelan. Maka jalanlah aku. Karena aku fokus banget turun sambil ngomong cara turun yang bener, aku lupa nengok belakang. Ada kali 15 menit aku ngomong, pas nengok orangnya gak ada. Ketinggalan hahahhaa. Jadi ceritanya aku sendirian lagi, nih, di tengah hutan belantara. Ngeri ngeri sedap, nih. Kabut pula. Jujur aku ketakutan. Pake banget. Untungnya, gak lama Puput dateng nyusul aku. Emang, dia mah buddy system yang pas mantab banget.

Teman-teman aku yang lain pun turun cepat ke pos 2. Tinggal teman perempuanku itu yang belum tiba. Akhirnya diputuskan kami lanjut jalan, karena sudah jam 5 sore. Kami ngejar kereta pulang jam 10 malam. Tenang, temanku bersama expert, kok. Makannya kami berani tinggal.

Turun cepat tanpa rem. Break sebentar di kala maghrib. Kemudian hujan deras pun turun lagi, lagi, dan lagi. Mana aku kebelet boker pula. Tapi takut buat boker sembarangan, gara-gara temenku si Ajeng ngeliat hal-hal aneh melulu. Aku udah bilang kalo liat hal aneh jangan dianggep. Aku sih gak bisa liat apa-apa, kacamata aku berembun parah. Aku cuma bisa liat cahaya senterku, kaki temanku, dan senternya si Puput. Aku udah kebelet banget, tapi kata Puput tahan aja dulu sampe ke base camp. Yaudah dehhhhhh lanjuuuut. Akhirnya jam 19.00 aku bisa boker dengan bersahaja di base camp.

Nyampe di warung soto, beberapa temanku udah ada yang tancap gas balik duluan ke Madiun. Mereka ngejar kereta jam 9 malam. Aku masih santai karena keretaku jam 10 malam. Makan soto dulu lah.. Saat itu sisa aku, Puput, Ajeng. Kami nunggu rombongan terakhir.

Jam 20.30 mereka belum juga dateng. OMG!! Aku mulai panik nih, Puput sama Ajeng aku suruh balik ke Madiun duluan, karena takut ketinggalan kereta. Tapi mereka gak mau. Mereka mau nunggu rombongan terakhir. Aku atur strategi sama Puput, soalnya kita mulai panik. Rombongan terakhir gak dateng-dateng. Jam 21.30 kami pasrah dengan tiket kereta dam mulai mencari ojek buat ngejemput teman kami ke atas. Tapi kemudian kami sadar entah di mana mereka berada. Kami pun harap-harap cemas. Kita tunggu sampai jam 11 malam, kalau belum ada tanda-tanda kemungkinan akan kami cari.

Alhamdulillah banget, nih, jam 22.30 mereka pun tiba. Teman perempuanku itu pucat pasi. Segera dikasih soto ayam dan teh anget biar gak pucet lagi. Dia cerita banyak hal yang nyata dan “nyata”. Lumayan bikin bulu kuduk berdiri. Alhamdulillah dijagain bisa sampe turun ke basecamp.

Lalu pulangnya gimana? Tiket keretanya, kan, udah hangus.

Jangan kayak orang susah, kita beli tiket lagi. Lebih tepatnya dibeliin sama temanku, sebagai rasa terima kasih. Alhamdulillah rejeki anak soleh.

Selalu seru dan banyak cerita di setiap pendakian. Mungkin kalau aku tidak hobi mendaki, aku tidak punya cerita yang bisa aku tulis atau aku ceritakan tentang ulang tahunku yang ke-30 ini.