Ratu Cumi's Choice

PERJALANAN SETELAH MENDAPAT LISENSI DIVING

Setelah mendapatkan lisensi diving (menyelam)  ngapain ?  Tentu saja pergi menyelam secara berkala, minimal 6 bulan sekali.  Pertama-tama ak...

Sabtu, 11 April 2020

Diganggu Makhluk Tak Kasat Mata di Kamboja



Barusan nonton drama Korea yang judulnya Hotel del Luna. Genre-nya horror komedi romantis gitu. Aku suka alur ceritanya, seru. Jadi ceritanya itu tentang seorang perempuan yang kena kutukan. Perempuan ini enggak bisa mati dan dia harus mengelola hotel. Hotelnya bukan hotel biasa. Bukan dipersembahkan untuk manusia, tapi dipersembahkan untuk arwah yang belum bisa menemukan jalan ke surga atau neraka.

Aku jadi ingat pengalaman aku dan teman-temanku, Aisha, Dina, dan Sitti, ketika pergi ke Kamboja, tahun 2014 lalu. Waktu itu kami berencana ke Angkor Wat, jadi kami pun mencari penginapan yang dekat dengan destinasi tersebut. Maka dipilihlah hotel di daerah Vithei Charles De Guals, Corner Jayavaman. Selain karena jarak, penginapan tersebut dipilih karena murah tapi dapat kamar yang cukup mewah.


Ini penampakan kamar hotelnya. Di satu kamar ada dua tempat tidur berukuran besar, yang satu berada di sisi sebelah kiri kamar (jika dilihat dari foto), dekat jendela yang pemandangannya ke jalan raya. Yang satu lagi di sisi sebelah kanan kamar, dekat pintu masuk. Di antara keduanya ada lorong dan kamar mandi.

Begitu tiba di kamar, kita berdecak kagum dengan fasilitas yang diberikan. Saat itu aku dan Dini memilih tempat di sisi kiri kamar. Aisha dan Sitti di sisi kanan kamar. Kami pun menikmati suasana, sambil bercerita dan tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh ribut. Aku lupa saat itu kami sedang bercerita tentang apa.

Sorenya kami pergi ke pasar malam. Aku lupa di mana letak pasar malamnya. Hehehehe. Maklum, lah, yah, udah 6 tahun yang lalu. Di sana kita mau belanja pernak-pernik Kamboja, entah itu baju, tas, magnet, gantungan kunci, pokoknya intinya belanja.

Saat itu kami berpencar, karena barang yang kita cari berbeda-beda. Kebetulan saat itu aku bersama dengan Aisha. Kami masuk ke dalam satu toko yang menjajakan baju dan tas. Ketika aku sedang melihat-lihat baju, Aisha memanggil. Dia ingin membeli tas, dan meminta pendapatku tentang model tas yang oke. Tas-tas ini digantung di bagian atas etalase toko. Aku dan Aisha pun haru mendongakkan kepala sambil tunjuk-tunjuk tas yang dimaksud.

Sambil melihat-lihat tas yang ada di atas, aku dan Aisha bergerak maju mundur, ke kiri ke kanan. Sampai pada akhirnya.

BRAAAAAAKKKKKK

Aku menendang sesuatu hingga jatuh. Barang ini tidak terlihat, karena tertutup oleh etalase baju yang ada di bawah. Aku pun langsung melihat apa yang aku tendang secara tidak sengaja itu, ternya itu adalah SESAJEN!!! Aku kaget setengah mati, yang punya toko misuh-misuh gara-gara sesajennya ketendang. Ya, lagi, dia naro sesajen di bawah, ketutupan pula ama dagangannya, kan, enggak kelihatan. Melihat si pedagang sewot, aku pun minta maaf. Bahkan aku pun meminta maaf kepada sesajen, dengan cara menempelkan kedua telapak tangan di depan dada dan sedikit membungkuk. Aku lupa, deh, setelah kejadian itu, Aisha jadi beli tasnya apa enggak, ya. Atau malah aku yang jadi beli. Atau justru kita malah enggak beli apa-apa karena ada insiden tidak menyenangkan.

Setelah melihat-lihat barang, kita tidak langsung pulang, tapi makan malam dulu sambil rumpi-rumpi manis. Setelah perut kenyang kita buru-buru balik ke hotel, mengingat besok kita mau ke Angkor Wat pagi hari. Kita nyampe di hotel entah jam delapan atau jam sembilan malam, deh.

Begitu tiba di kamar, kami ke sisi tempat tidur masing-masing. Namun tiba-tiba, di bagian sisi kiri lampunya mati, nyala, mati, nyala, kemudian mati. Akhirnya aku dan Dina pun ke sisi kanan. Kemudian gantian, bagian sisi kanan yang mati, nyala, mati, nyala. Akhirnya, kita pun nelepon pihak hotel buat ngecek kenapa lampunya kayak gitu.

Pas si pelayan hotel datang, tidak ada lampu yang mati. Semua lampu tetap menyala. Dia cek semua lampu, tapi keadaan baik-baik saja. Akhirnya si pelayan pun kembali. Aku dan teman-teman merasa aneh. Enggak lama kejadian pun berulang kembali, kita kembali memanggil pelayan hotel. Si pelayan kembali kebingungan karena tidak ada masalah dengan lampu maupun listriknya. Tapi demi kenyamanan kita, si pelayan pun mengganti lampu kamar. Sembari mengganti lampu, sembari dia berbicara dalam bahasa Kamboja. Pelayannya sendirian, loh, ya.

Hati kami pun tenang setelah lampu kamar pada diganti. Aku pun pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Kamar mandinya cukup besar, dengan kaca wastafel yang juga sangat besar. Saat aku yang lagi gosok gigi, lampu kamar mandinya mati. Aku pun mengeluarkan badanku dari pintu kamar mandi, sambil ngomong, "Eh, jangan dimatiin dong lampunya." Saklar lampu ada di lorong. Tapi begitu aku mengeluarkan badan dari pintu, tidak ada satu orang pun yang berada di lorong.

Aisha dan Sitti nongol dari sisi kanan, sementara Dina ada di sisi kiri. Kami hening sejenak. Lalu kemudian lampu kamar mandi menyala sendiri. Kemudian apa yang terjadi? Lampu kembali nyala mati. Kali ini nyala matinya berputar, sisi kanan kamar, kamar mandi, sisi kiri kamar, lorong, dan terus berputar. Kami pun ketakutan setengah mati sambil berteriak histeris, lalu kemudian berkumpul di sisi kanan kamar. 

Kami kembali menelepon pelayan hotel. Ketika dia datang, kejadian lampu mati nyala pun tidak terjadi. Pelayan yang datang bingung, kami ketakutan. Akhirnya si pelayan berjalan ke sisi kiri kamar
dan kembali berbicara dalam bahasa Kamboja. Dari nadanya, aku yakin, si pelayan ini sedang berdoa.

Setelah si pelayan pergi kami berkumpul di sisi kanan kamar. Dan apa yang terjadi, lampu kembali mati nyala. Lalu kemudian, kami pun berdoa dan meminta maaf. Saat itu kami berpendapat, si penunggu kamar merasa terganggu dengan kedatangan kami yang ngobrolnya ribut banget dan ketawa berlebihan. Dalam jangka waktu yang cukup lama, tidak ada kejadian lampu mati nyala. Kami pun agak tenang dan berusaha untuk beristirahat.

Di sisi kanan kamar, ada dua single bed. Satu kasur jadinya berdua. Sumpah ini enggak enak banget, sempit. Akhirnya aku ngajak Dina buat kembali ke sisi kiri. Tapi Dina ketakutan. Entah kenapa waktu itu aku meyakinkan Dina buat jangan takut. Aku ingat kata-katanya mamah, bahwa derajat manusia itu paling tinggi dibandingkan makhluk-makhluk lainnya di dunia ini.

Akhirnya Dina pun mau ikut ke sisi kiri kamar. Kita naik ke kasur dan aku mengajak Dina untuk berdoa. Kami membaca beberapa surat dari kitab suci Alqur'an. Setelah itu aku lanjut berdoa dengan bahasa Indonesia. Eh, tapi lebih kayak ngobrol, sih, aku bilang seperti ini:

"Maaf kalau kami ganggu. Kami tidak ada niat untuk mengganggu. Kami datang ke sini dengan niat baik. Kami hanya mau liburan, tidak ada maksud jahat lainnya. Jika memang kami mengganggu, kami mohon maaf sebesar-besarnya. Saya mohon, jangan ganggu kami lagi."

Setelah kami berdoa, tidak ada kejadian lagi. Aku pun tertidur. (Si Dina yang cule itu sempet mau ninggalin aku tidur sendirian di sisi kiri, saat aku udah tertidur. Jahat emang. Untung cuma niat gak dilakuin.

Jam lima pagi aku terbangun oleh alarm. Duh, badan rasanya lelah banget. Kami pun bersiap-siap dengan tenang, enggak rusuh. Kami pergi ke Angkor Wat pagi-pagi sekali, karena mau melihat Matahari terbit. Tapi habis lihat Matahari terbit, kita akan kembali lagi ke hotel buat sarapan dan mandi, kemudian balik lagi ke Angkor Wat buat keliling kuil. Iya, bulak-balik.

Begitu nyampe di hotel, kami disambut oleh sang manajer. Kami ditanya-tanya tentang bagaimana pengalaman kami di Angkor Wat. Ramaaaaah banget. Kita sampai bingung. Udah gitu kita diajak makan di tempat VIP. Kita pun bertanya-tanya, kenapa orang ini, kok, menyambut kita dengan spesial. Sementara ke tamu-tamu lain biasa-biasa aja. Kami saat itu, sih, yakin, si manajer udah dapet cerita tentang kejadian mati lampu kita. Makannya dia jadi baik banget.

Pas kita mau pergi ke Angkor Wat lagi, dia pun mengantar kepergian kami sambil meminjamkan topi tradisional Kamboja kepada kita. Katanya biar kita enggak kepanasan. Tapi topi ini sangatlah usefull. Buset, panasnya Kamboja saat itu, enggak ada obatnya. Panas pake banget, bangetnya pangkat empat. Jalan aja sampai sempoyongan. Sitti aja sampai mimisan.


Pulang dari Angkor Wat, si manajer hotel kembali menyambut kami.

Singkat cerita, ketika kembali ke Indonesia, aku pergi menemui teman kantorku di kantin. Saat itu aku masih menjadi reporter di Natgeo Kids Indonesia. Temanku ini bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang normal. Bahkan dia juga bisa merasakan ada sesuatu atau enggak.

Temanku itu ada dua orang, Mba Shinta dan Mba Didi. Orang yang pertama aku tanya si Mba Shinta.
"Mpok, ada yang ngikut gak di belakang aku?" Hahahaha... entah kenapa aku masih takut-takut saat tiba di Indonesia. Si Mba Shinta bilang enggak ada apa-apa. Dia tanya kenapa, aku ceritain kejadian saat di Kamboja.

Mba Didi yang menyimak cerita sambil manggut-manggut dan merokok, tiba-tiba mengangkat telepon dari pacarnya Mas Nugie (sekarang udah jadi suaminya). Mba Didi pun menceritakan kejadian aku itu ke Mas Nugie. Tiba-tiba, Mba Didi bilang gini:

"Mel, kata Nugie, lu waktu di Kamboja nendang sesuatu, gak?"

Aku bingung, dan mengingat-ingat, flashback perjalanan waktu ke Kamboja itu. Sampai akhirnya aku inget, kejadian tak sengaja menendang sesajen saat di pasar malam.

"Kata Nugie, lu di sana nendang sesuatu. Yang ditendang marah, makannya ngikutin lu ke hotel terus ngegangguin elu. Tapi untung lu waktu itu berdoa dan minta maaf, yang ganggu lu jadi enggak marah-marah lagi."

Wah, takjub gue. Padahal beberapa informasi enggak aku ceritain, tapi Mas Nugie bisa menerawang dan apa yang dia omongin benar semua. Sampe merinding gue saat itu.

Ini pengalaman pertama aku digangguin makhluk lain ketika lagi travelling. Setelah kejadian ini, aku selalu berusaha untuk menjaga sikap, perilaku, dan kata-kata ketika pergi ke tempat orang. Sungguh pengalam ngeri-ngeri sedap, yang enggak akan aku lupa.

Minggu, 22 Maret 2020

Di Rumah Aja, Tantangan Berat Bagi Si Ekstrovert

Sudah lama tidak update. Alasannya karena malas. Selain itu karena sudah jarang membuat tulisan naluri seorang penulis pun seolah sirna dari dalam diri aku. Hehehehe (banyak alasan). Tapi ada satu alasan mengapa akhirnya aku menulis malam ini.

Aku teringat akan Christopher Columbus si penemu Benua Amerika. Semua orang enggak akan tahu bagaimana sejarah penemuan benua Amerika jika bukan karena Columbus membuat catatan perjalanan. Zaman dahulu orang-orang lekat akan menulis buku harian, selain untuk curhat atau menuliskan kata-kata puitis, mereka juga menulis tentang kejadian-kejadian yang ada di sekitarnya. Kejadian ringan sampai kejadian besar yang memiliki dampak yang signifikan untuk kehidupan orang banyak.

Ya, aku ingin tulisan ini bisa menjadi saksi sejarah. Jika bukan untuk orang banyak, mungkin bisa untuk anak cucu aku (amin, ya, Alloh).

Aku saat ini sedang duduk di ruang tivi di rumah. Aku duduk termenung sendiri dalam keadaan gelisah dan tidak tenang. Kenapa keadaan aku seperti ini, karena jiwa ekstrovert aku mulai meronta-ronta. Ya, semenjak mewabahnya virus corona di dunia, termasuk di Indonesia, pemerintah setempat menyarankan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk diam di rumah. Alasannya untuk menekan penyebaran virus ini. Semakin orang menjaga jarak dengan diam di rumah masing-masing, mengarantina diri sendiri, semakin sulit virus menyebar.

Aturan seperti ini dibuat pada 16 Maret 2020. Keputusan yang sangat lambat, karena virus sudah mewabah sejak akhir Desember 2019. Ketika berita tentang virus ini mencuat ke permukaan, pemerintah terkesan sombong. Alih-alih mempersiapkan diri, malah ingin membayar seorang influencer supaya bisa meningkatkan kunjungan pariwisata (di tengah mewabahnya virus yang menyerang sistem pernapasan ini). Hingga akhirnya pemerintah kalang kabut ketika mendapat kabar ada dua orang yang berasal dari Depok terkena virus ini akibat berinteraksi dengan orang Jepang di tempat kerjanya.

Tanggal 15 orang-orang mulai panik. Semua memborong hand sanitizer, masker, sembako dan barang-barang lainnya untuk bertahan hidup. Saat itu aku sedang berada di Jakarta, kota yang memiliki jumlah suspect yang begitu tinggi. Aku pergi tanpa membawa hand sanitizer, hanya masker dua lembar. Aku pasrah, dan mengandalkan fasilitas hand sanitizer yang ada di tempat umum. Dari artikel-artikel yang aku baca, virus ini tidak menyebar via udara. Orang yang terpapar oleh virus ini punya gejala batuk pilek. Ketika mereka batuk dan bersin (tanpa menutup mulut atau memakai masker), virusnya akan menyebar dan menempel di mana-mana. Jika dia menutup mulutnya pakai tangan, maka besar kemungkinan virusnya menempel di mana-mana. Ketika kita menyentuh apa yang dia sentuh, lalu kita makan atau menggosok mata, maka bisa banget kita ketularan.

Di Jakarta pencegahan penyebaran sudah dilaksanakan dengan menyediakan hand sanitizer di tempat umum. Pengecekan suhu tubuh pun selalu dilakukan saat kita mau masuk ke tempat umum, kalau suhu tubuh kita di atas 38, maka kita tidak boleh masuk ke tempat umum atau naik transportasi umum.

Aku yang tadinya biasa-biasa aja jadi parno. Suhu udara Jakarta yang cukup panas, membuat daya tahan aku melemah. Di luar ruangan panas, di dalam ruangan dingin. Kan, bikin kepala jadi pusing, bersin-bersin. Sekalinya minum dingin langsung gatel tenggorokan. Tapi aku yakin ini hanya gejala "gak enak badan" pada umumnya, soalnya aku memang tidak memiliki riwayat yang memungkinkan aku terkena virus corona. Seperti berpergian ke luar negeri selama dua minggu terakhir atau berinteraksi dengan orang asing. Rasanya ingin pulang ke Bandung secepatnya.

Ngapain, sih, di Jakarta. Ke Indofest sekalian aku harus urus beberapa keperluan penting yang belum sempat aku urus saat pindah ke Bandung (dari Jakarta) tahun lalu. Seperti urusan perbankan, surat-surat penting, dan penandatangan dokumen apartemen aku. Jadi bukan buat liburan, tapi emang kebetulan aja harus ke Jakarta.

Tanggal 15 malam, grup sekolah aku (aku saat ini berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Bandung) heboh dengan situasi saat ini. Banyak orangtua yang mempertanyakan apakah aman atau tidak jika anak tetap beraktivitas di sekolah. Diskusi berjalan hingga malam hari, sampai akhirnya keluarlah surat edaran dari Kang Oded, Wali Kota Bandung, yang menyetakan kebijakan bahwa seluruh warga Kota Bandung dihimbau untuk lebih waspada dengan berperilaku hidup bersih dan sehat di berbagai tempat, serta menghindari keramaian dan perjalanan tidak penting. Salah satu butir dari kebijakan tersebut juga menyatakan untuk memberlakukan pembelajaran jarak jauh melalui media daring bagi peserta didik pada satuan pendidikan di bawah kewenangan Pemkot Bandung (PAUD/TK, SD, SMP, LKP, LPK, dan PKBM).


Seiring dengan pengumuman tersebut, maka viral-lah hastag #workfromhome dan #schoolfromhome.

Sebagai salah satu praktisi pendidikan, maka akupun patuh dengan kebijakan tersebut.

Hari pertama aku bahagia. Bahagia banget. Tidak perlu bertatap muka dengan siswa, tidak perlu bangun pagi lalu bermacet-macet ria untuk pergi ke sekolah, enggak perlu mikir pake baju apaan (pake piyama juga bisa), kerja bisa sambil leyeh-leyeh, koordinasi menggunakan media daring, enggak perlu jajan karena makan masakan mama. Pokoknya mantap, deh.

Aku menertawakan teman-temanku yang bikin status, "aduh, gak betah banget di rumah," atau mempermasalahkan kebosanannya diam di rumah karena mereka adalah golongan kaum ekstrovert. Aku nyinyir dalam hati, kok, bisa-bisanya mereka kurang enjoy. Kita hanya perlu enjoy dengan berdiam diri di rumah.

Hari kedua, masih merasa hal yang sama. Hari ketiga dan keempat pun sama. Sampai di hari ke lima, tepatnya ketika aku menulis tulisan ini, aku memiliki perasaan gelisah yang begitu tinggi. Aku resah. Iya, aku resah hingga tidak bisa duduk diam. Timbul perilaku-perilaku yang menuntut aku untuk bergerak. Seharian ini aku mencoba menyibukkan diri semenjak pagi. Bangun tidur, setelah sarapan, aku main sepatu roda keliling rumah hampir 1 jam. Siang hari aku main sepeda statis. Sore hari aku treadmill.

Iya, setiba-tiba aku ingin ketemu dengan orang. Aku ingin ngobrol, berinteraksi, bersosialisasi, pokoknya keluar dari rumah. Aku jadi ingin berteriak, "JIWA EKSTROVERTKU MERONTA-RONTA". Salah satu cara untuk orang ekstrovert me-recharge energi rohaninya kan memang bersosialisasi dengan orang lain. Maka apa yang aku lakukan? Aku aktif banget di sosial media, komen sana sini, bikin ig story biar ada yang komen ngajak ngobrol, bikin postingan IG, nge-chat sahabat-sahabat aku. Ya, pokoknya aku selalu mengusahakan untuk berinteraksi dengan orang. Yang paling di luar kebiasaan adalah, belanja online. Iya, aku jarang banget belanja online. Cuma buat bisa berinteraksi dengan penjual atau pengantar.

Kenapa enggak keluar aja? Masih banyak, kok, orang-orang juga yang santai nongkrong di cafe dan jalan-jalan di mall. Karena moral! Ada sebuah saringan di dalam diri ini yang membuat aku pribadi tidak mau melakukan hal-hal yang menurut aku tidak benar.

Kegelisahan ini membuat aku tidak bisa beristirahat tepat waktu. Aku selalu tidur di dini hari, walaupun seharian badan dipakai berolahraga. Huhuhuhu...

Aku enggak nyangka, kepribadian seperti ini, yang aku anggap menyenangkan, ternyata bisa membuat aku gelisah di tengah situasi seperti ini. Aku sungguh berharap, semua keadaan bisa baik-baik aja.

Jumat, 03 Januari 2020

Perjalanan Patah Hati

Setahun lalu, tepat di tanggal ini, aku sedang berada di Ende, Flores, Nusa Tenggara, Timur. Aku resah dan cemas, rasanya ingin pulang. Sehari sebelumnya, tanteku mengabarkan kakakku sakit, kondisinya tidak baik dan sudah tidak berdaya. Sungguh kabar tiba-tiba.

"Lusa Ade pulang, langsung ke Bandung," ujarku.

Aku merebah di kamar salah seorang warga yang kutumpangi rumahnya. Pikiranku melayang entah kemana, hingga akupun tertidur.

Lewat tengah malam waktu Indonesia bagian tengah, teleponku berdering. Nama mama tertera di layar. Begitu kuangkat, jauh di ujung sana Mama menangis dengan histeris semabari menyuruhku pulang saat itu juga. Begitu aku tanya alasannya kenapa, dia pun menjawab:

"AA meninggal," sambil menangis seraya meraung.

Jantungku berdegup dengab kecang, aku menangis menjadi seperti orang gila. Seisi rumah tempatku menginap terkejut dengan kabar yang kuberikan.

Pikiranku buntu saat itu. Aku hanya menangis menjadi-jadi. Orang di sekitarku sibuk, ada yang mengemas barang-barangku, ada yang membatalkan tiket pesawatku, ada juga yang mencarikan tiket pesawat tercepat menuju Bandung.

Teleponku tidak berhenti berdering. Aku sempat kesal, Apa yang mereka harapkan? Aku bahkan tidak tahu mengapa kakakku meninggal. Aku hanya mengangkat telepon dari orang-orang yang kuanggap penting.

Aku menelepon sahabat-sahabatku yang bisa menggantikan aku di Bandung. Yang bisa menjadi mata dan ragaku di sana. Aku yakin mamahku panik dan tak berdaya sama denganku. Hanya itu yang bisa aku lakukam, sisanya aku hanya menangis.

Hampir subuh sodaraku memberi kabar tentang tiket pesawat yang terefektif yang bisa membawaku tiba di Bandung dengan cepat. Setidaknya jam 4 sore aku sudah bisa tiba di Bandung. Aku memintanya memesan untuk dua orang, rasanya aku tidak bisa melewati perjalanan pulang ini seorang diri.

Aku tak berhenti menangis hingga waktu kepulanganku tiba. Sesak dan lelah. Akubmembayangkan harus 3 kali transit sambil pindah pesawat. Rute yang harus aku lewati Ende - Kupang, kemudian direct Kupang-Surabaya. Dari Surabaya aku harus ganti maskapai, pindah terminal, sambil membawa barang bawaan yang begitu banyak sambil berlari kecil, jadwalnya cukup mepet. Untung penerbangan sesuai jadwal, karena kalau tidak, aku mungkin akan ketinggalan pesawat di penerbangan selanjutnya.

Aku ingin melihat kakaku untuk terakhir kalinya, sehingga pintaku saat itu adalah, jangan dikubur sebelum aku pulang. Tapi semua orang meminta agar aku ikhlas, supaya kakakku bisa dikubur secepatnya. Aku bersi kukuh tidak mau, pokoknya aku harus ditunggu. Mamaku menangis, aku tak peduli. Hp aku matikan, lalu menangis kemudian.

Ketika tiba di Kupang, HPku berbunyi tak kunjung usai. Aku hanya diam sambil menangis.

"Kak, ikhlaskan saja. Kasian Mama. Kasian pula jenazah kakaknya Kak Mel, semakin cepat dikubur semakin baik. Ikhlas Kak, nanti begitu tiba kita langsung datangi kuburnya," ujar Totok, teman seperjalananku, saat itu.

Akhirnya kuangkat telepon, dan aku berkata, "iya, kuburkan saja." Di ujung telepon bisa kudengan sirine ambulance pun berbunyi. Kututup teleponku. Tak lama saudaraku menelepon, aku hanya bilang kepadanya untuk mengabadikan prosesi pemakaman dalam bentuk video.

Sepanjang perjalanan, aku menangis, kemudian tertidur karena lelah. Terbangun, kembali menangis, lalu kemudian tertidur kembali. Terus seperti itu hingga mendarat di Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

Saat itu pukul empat sore, aku dijemput oleh tanteku. Dia memelukku sambil menangis. Aku bilang padanya aku ingin ke makam.

Bandung sangat macet saat itu, aku tiba di makam mendekati maghrib. Aku turun dari mobil, lalu aku melihat kubur baru terhiasi bunga tabur dan bunga ucapan duka cita. Kubaca nisan, tertera nama kakakku di sana.

Patah hati ini, berkeping. Sakitnya menyelekit hingga ke tenggorokkan. Aku tak pernah siap untuk menghadapi ini. Aku enggak pernah membayangkan kakakku pergi begitu cepat, ketika aku tidak berada di tempat. Tak ada ucapan selamat tinggal, tidak ada pelukan. Tidak ada perpisahan.


Rabu, 22 Mei 2019

Buka Puasa di Disneyland



“Ca, ke Hongkong, yuk!” ajak si Galuh Sitompul sekitar tahun 2011 lalu.

Ajakan yang sepertinya tidak bisa ada penolakan. Kenapa tiba-tiba si Galuh ini ngajakin ke Hongkong? Soalnya lagi ada promo 0 rupiah dari salah satu maskapai penerbangan berbiaya murah. Tapi berangkat dari Medan. Tiket ke Medan pun saat itu sangatlah murah pulang-pergi hanyalah Rp1.000.000. Tanpa pikir panjang, dan tanpa mengonfirmasi kapan kita akan berangkat, aku iya-in aja ajakannya.

Dan ternyata, kita berangkat di bulan puasa, dong!

Krik,, krik,, krik,,

Tapi yasudahlahyah, berangkat kita ke Hongkong. Kurang lebih lima hari kami berada di sana. Puasa, dong! Pokoknya kalau bulan puasa yang namanya ibadah harus penuh, mengingat di bulan lainnya enggak penuh-penuh amat. Walaupun di sana cuacanya lagi panas, aku tetap puasa. Gimana ngatur waktunya? Karena waktu itu smartphone aku belum canggih-canggih banget, aku ngikutin jadwal sahur dan buka di Indonesia. Cukup memantau lewat twitter, apakah ada yang ngetwit “Udah Imsaaaak!” atau “Selamat berbukan puasa!”

Hahahahah!

Salah satu destinasi incaran aku di Hongkong adalah Disneyland. Dari kecil kepingin banget ke sini!!! Kami pergi ke Disneylan di hari ke-3 kami di Hongkong. Sumpah, cuaca lagi panas banget saat itu.


Untuk bisa ke Disneylan kami harus naik kereta yang didesain khusus. Keretanya lucu banget! Soalnya, nih, bingkai kaca jendela di setiap kereta dan pegangan tangan untuk penumpang yang berdiri berbentuk Mickey Mouse.

Saat tiba di stasiun tujuan, hati aku berdegup kencang. Begitu turun dari kereta dan keluar dari stasiun, aku melihat Disneyland! OMG aku exited berlebihan dooooooong! Siapa sangka Disneyland yang aku hanya lihat di majalah Donal Bebek, ada di depan mata aku. 

Alhamdulillah rejeki orang puasa.

Jalan ke sini, jalan ke sana, main ke sini, main ke sana, neduh ke sini, dan neduh ke sana karena panas dan gerah banget. Rasanya iman mulai goyah. Tapi, aku tetap bertahan untuk berpuasa.
Soleh banget, ya, akutu.

Sampai seketika ada seorang anak kecil makan es krim di depan mataku, waktu saat itu masih jam 11 siang! Setiap anak itu melakukan gerakan menelan, aku sampai ikut-ikutan nelen ludah. Kenikmatan melahap es krim itu terpatri dalam benak aku begitu kuat. Tapi  aku bertahan, sampai adzan di Indonesia berkumandang. Adzan dzuhur tapi.

HAHAHAHHAHAHA

Iyah, payah banget akutu. Cuma bisa bersabar sampai jam 12 siang (ini juga diniatin banget, biar keitung puasa setengah hari HAHAHHAHAHA). Aduh netijen aku jangan dicontoh, ya, cukup contoh hal-hal yang baik aja, ya. Jam 12.01 WIB es krim yang tadinya hanya bisa aku nikmati di dalam kepala, langsung bisa aku nikmati di dalam mulut. Entah kapan lagi, ya, kan ke Disneyland, rasanya aku tak kuasa untuk tidak mencicipi jajanan-jajanan yang ada di sana.

Maafin Melissa, ya, Allah, jangan ditutup pintu jodohnya, ya, Allah.
Besoknya aku puasa lagi, kok! Setengah hari lagi, tapinya. Hahahaha. Sumpah kali ini akunya gak kuat sama cuaca Hongkong yang lagi panas-panasnya. Bikin pala pening, lemah, letih lesu dan tidak bergairah.

Besoknya, baru, deh, iman aku mulai terbangun kembali untuk buka puasa di adzan maghrib.
Dari pengalaman ini, aku pun mengikrarkan janji kepada diri aku sendiri enggak akan jalan-jalan kalau lagi puasa.


Kamis, 11 April 2019

Ketinggalan Pesawat Untuk Wisuda di Sumbing


Tahun lalu aku hampir drop out dari Universitas Indonesia (UI) gegara kelamaan ngerjain thesis. Sumpah, S2 aku sama lama kaya S1. Rasa malas ngerjain thesis, menunda-nunda, malas pulang-pergi Kebon Jeruk-Depok membuat progress thesis berjalan lambat. Tiba-tiba, hanya tersisa 3 bulan untuk menyelesaikan penelitian, rekap data, bikin bab 4, bab 5, sidang seminar, dan sidang thesis. Mampus, enggak, tuh?

Ada satu titik aku merasa ini semua enggak akan berhasil. Sempet, dong, aku telepon temen aku sambil nangis dan bilang, "I CAN'T MAKE IT!!" Tapi untungnya temen aku itu cukup membantu dan menenangkan, sehingga ke-drama-an ini bisa ditunda dan kembali mengerjakan serta memperjuangkan apa yang harus diselesaikan.

Satu sisi aku merasa depresi, tapi di sisi lain aku enggak bisa kalau memutuskan untuk menyerah. Ketika mulai putus asa, aku selalu ingat niat awal mengapa aku mengambil studi ini dan ingat mama  yang mungkin menitik sebuah harapan kepadaku. Untuk mengantisipasi munculnya rasa kecewa, aku sempat bertanya kepada mama, "Kalau ade enggak lulus gimana, Ma?" Saat itu jawabannya cukup menenangkan, "Ya, sudah, enggak apa-apa yang penting sudah usaha."

Akhirnya aku benar-benar coba semampunya. Dengan segala kemampuan yang ada, aku selesaikan satu-satu hingga akhirnya aku pun dinyatakan tidak lulus sidang thesis :'(

Sedih? Pasti. Drop? Pasti. Tapi enggak lama-lama, soalnya aku dikasih waktu 10 hari untuk merevisi thesis agar bisa lulus. Yang namanya banting tulang, tuh, aku representasikan di masa-masa ini. Apapun yang terjadi pokoknya harus bisa selesai sesuai tenggat waktu yang diberikan. Tapi apa yang terjadi? Aku berhasil menyelesaikan, namun melewati batas waktu yang ditentukan. :(

Kacau, deh, pokoknya. Aku melewati hari demi hari menuju pengumuman kelulusan dengan perasaan tidak menentu. Resah, gelisah, seperti dikejar sesuatu tapi enggak keliatan sesuatunya itu apa.

Hingga akhirnya, saat aku cek Web UI, ada pengumuman:





Waktu itu aku langsung teriak bahagia, mengucap syukur, dan menyebar kabar kepada pihak-pihak yang selama ini memberi bantuan, dukungan, semangat, serta menunggu kabar kapan aku lulus (tentunya selain kabar kapan aku nikah hahahaha)

Perasaan bahagia ini tuh, enggak bisa dibendung lagi. Rasanya puas, lega, MERDEKA!!!!!!!!!!

Begitu toga ada di dalam genggaman, maka akupun segera merencanakan pendakian dalam rangka merayakan kelulusan. Pilihannya jatuh ke Gunung Sumbing. Segeralah aku beli tiket pesawat Jakarta-Yogyakarta (PP) perjalanan pun dilakukan tanggal 16 Agustus 2018.

Waktu itu aku ikut open trip yang dibikin sama temen aku yang namanya Docae. Ini trip termewah yang pernah aku ikutin. Pokoknya cukup bawa badan dan perlengkapan pribadi. Pokoknya hike like a princess banget!

Hari H pun datang. Lantas apa yang terjadi? AKU KETINGGALAN PESAWAT, DONG!
Wah, geblek banget, deh! Aku, tuh, kayaknya emang dikutuk selalu terburu-buru dan menunda-nunda. Aku nyampe bandara, pesawat udah siap take off!

"Mba, enggak bisa disuruh tunggu aja? Saya lari, deh, ke landasan!"
Anak sultan kali, ah, minta pesawat nungguin. Tentu saja permintaan enggak masuk akal ini ditolak mentah-mentah sama petugasnya.

Udah, mah, gerah banget, lari-lari, bawa kerir, style udah anak gunung banget, eh, ketinggalan pesawat!

Nyerah? Enggak! Gengsi, karena sebelum berangkat aku bikin vlog perdana tentang packing peralatan pendakian dalam rangka mau naik Gunung Sumbing (HAHAHAHHA MAKAN TUH GENGSI)

Gue pergi dari terminal ke terminal di Cengkareng untuk mencari maskapai yang available. Semua full karena long weekend. Adanya Garuda, tapi tiketnya 4 juta! Gila, bukan anak sultan akutu sampe harus beli tiket pesawat 4 juta cuma buat naik Gunung Sumbing.

Akhirnya aku telepon temenku, "BANG KALAU GUE BELI TIKET 4 JUTA BUAT KE SANA, POKOKNYA, LU, MUSTI BAWA GUE KE PUNCAK BUAT FOTO PAKE TOGA!"


Dia ketawa sambil meng-iya-kan, pokoknya yang penting aku nyampe dulu ke Yogya. Lalu apa aku beli tiket 4 juta? ENGGAK, LAH! Gila kali. Masih menggunakan akal sehat aku beli tiket Garuda (seharga 1 jutaan :'( ) ke arah Solo, kemudian dari bandara solo naik Gojek ke stasiun dan lanjut ke Jogja naik kereta. Yah, lumayan, lah, daripada 4 juta!

Singkat cerita, aku berhasil kumpul bersama tim. AKHIRNYAAA!

Kami naik dari jalur Garung. Menuju pos 1 naik ojek. Ini ojek bukan sembarang ojek, karena kita naiknya di depan, bo! Ini enggak aman-aman banget, sih, motor aku aja sempet tabrakan sama motor yang lagi turun. Emang ada aja ya kisah di hidup akutu... (Video naik ojek bisa klik ini!)

Menu pertama pendakian mirip-mirip sama Sindoro. Aku bergerak lambat seperti biasa hahaha. Gegabah emang enggak pake latihan fisik. Apalagi waktu lewat engkol-engkolan! Beuh!!!! Mana pas lagi mendaki lagi musim kemarau, debunya mana tahaaaaaaaaan~~~~~

Enggak lama mendaki, eh, udah nyampe di Pos 3. Kayaknya sekitar jam 1 apa jam 2, gitu, lupa. Leyeh-leyeh, dah, tuh. Makan siang, makan buah, bobo siang, rumpi siang, tawa-tiwi.
 Ketawanya enggak beres-beres, gegara ternyata celana aku sobek, dong! Mana celana dalem akutu warnanya tosca mentereng, wah, jadi banget bahan becandaan. Entah nyangkut di mana ampe bisa sobek kayak gini, kepaksa, deh, jahit celana, ditemani sunset yang indah banget berlatar Gunung Sindoro. Mantep.

Besok paginya kita summit attack, buset, dah, loyo banget! Jalan sepetak-petak kayak siput. mana jalurnya pasir empuk kaya punya Semeru. Heu heu heu...

Nyampe puncak? Enggak! AHHAHAAHAHAHHAHA

FOTO MESRA ALA-ALA SAMA SI AWAN
Gila, capek banget! Waktu itu aku bilang ke si Awan (my buddy system), "Wan kayaknya enggak akan sempet, nih, kalo ke puncak. Udah capek banget juga, di sini aja, deh, foto pake toga-nya."

Iya, waktu itu bukan puncak targetnya, tapi foto pake toga di gunung HAHAHAHAHHAHA. (MY TRIP, MY RULES!)

ADA YANG MINTA FOTO BARENG!

Iya, karena enggak tau pasti jadwal, aku tuh beli tiket pesawat di hari yang sama dengan aku turun gunung. Jadi enggak bisa santai-santai. Semuanya diburu waktu.

Kira-kira aku sempet ngejar pesawat pulang,  enggak?

TENTU AJA, ENGGAK!



Lagi-lagi aku tiba di bandara saat pesawat udah siap take off. Krik krik krik...
Akhirnya, aku pulang keesokan harinya naik kereta.

APESSSSS!!!!!!!

Nilai moral yang bisa diambil dari cerita ini adalah: PENTINGNYA MANAJEMEN WAKTU DALAM KEHIDUPAN.

Kamis, 04 April 2019

Dipermainkan Babi di Sindoro

Lagi Nungguin Diera




Mari kita mulai tulisan ini dengan menyebut nama Diera. Ya, si Diera ini sobat misqueenque yang tiba-tiba kasih kabar dia mau naik Gunung Sindoro (kejadiannya Maret, 2018). Selain kasih kabar, dia juga berniat untuk menyewa peralatan kampingku (iya, FYI, aja, nih, akutu nyewain peralatan kamping dengan harga bersahabat, hohoho).


Pas dengar kabar ini, aku pengin ikut. Tapi, aku (saat itu) lagi dikejar deadline thesis yang sudah di ujung Drop Out, hehehe. Sehingga yang aku bisa lakukan hanyalah memastikan peralatan Diera lengkap dan dia pergi dengan teman-temannya yang sudah biasa naik gunung-berpengalaman.

Eh, enggak lama, datang kabar lanjutan bahwa ketua kelompoknya, yang mana yang paling berpengalaman, batal ikut. Tapi karena timnya Diera udah siap berangkat, mereka akan tetap berangkat. Si Diera ini bilang, "Santai aja, gue, kan, anak gunung." Hmmmm....

Entah kenapa gara-gara Diera bilang gitu, setiba-tiba aku memutuskan untuk ikut. Aku langsung buka aplikasi pembelian tiket, dan aku beli tiket pesawat saat itu juga. Iya, tiket pesawat, lho, demi pergi sama Diera. Aku pun memberi dia beberapa list perlengkapan yang harus dibawa dan aku minta itinerary yang sudah dibuat oleh tim.

Singkat kata, pesawat aku tiba di Jogja. Aku dan rombongan Diera janjian di Malioboro. Aku tiba duluan, dan memutuskan sarapan di restoran cepat saji berlambang huruf M. Enggak lama, rombongan Diera datang. Dari hasil berbagi cerita, teman-teman ini tidak begitu sering naik gunung.

Saat cek list perlengkapan, ada yang enggak bawa matras dan begitupun flysheet-yang mana ini adalah peralatan kelompok. Sehingga kami pun berkeliling terlebih dahulu mencari tempat penyewaan untuk melengkapi perlengkapan. Menyambangi satu-dua tempat gagal, aku lupa alasannya apa. Waktu semakin siang, sehingga banyak yang bilang enggak usah bawa flysheet. Tapi aku keukeuh kita harus bawa. Feeling aja ini, mah.

Akhirnya kita dapat di salah satu tempat yang baru buka jam 9. Kami pun melengkapi perlengkapan, sarapan, dan tancap gas menuju basecamp Sindoro di daerah Kledung, Temanggung, Jawa Tengah. Waktu tempuh 3 jam, sehingga sekitar jam 12 siang kita sampai di tempat tujuan. Packing ulang barang bawaan, isoma, pesan ojek, titip barang yang enggak akan dibawa, sehingga perjalanan pun baru mulai pukul 14.00 WIB.

Menuju Pos 1 Gunung Sindoro ada dua cara, naik ojek dengan ongkos Rp25.000 dan trek yang yahud, atau jalan santai sekitar 2 jam. Ya, kami, sih, memilih naik ojek, lah, ya... Mayan, diantar sampai warung yang berada di antara Pos 1 dan Pos 2.

Waktu naik ojek cerah. Turun dari ojek juga cerah. Pas berdoa mau mulai pendakian mulai mendung. Baru jalan 5 menit hujan. Bongkar tas dulu, deh, buat pakai jas hujan kresek. Duh, hujannya enggak tanggung-tanggung, deres, bo! Mana trek Sindoro ini baru mulai langsung nanjak, air terjun mini pun tercipta sepanjang jalur. (Klik buat liat videonya)

Aku yang pergi tanpa latihan fisik ini terseok-seok di langkah pertama. Kaya mesin  mobil butut yang belum panas gitu. Hahehoh, deh, pokoknya. Tapi si Diera ini menjadi buddy system, katanya, "Santai aja, Mel, gue tungguin." Kami terpisah dengan rombongan yang jalan dengan sangat lincah. Tak apalah. Eh, enggak lama pas mesin udah lama, "Tungguin gue, Mel!" Hahahahaha... memang kita, tuh, saling melengkapi.

Pos demi pos dilewati, hujan pun tak kunjung henti. Dingin, kabut, basah, capek, lelah. Saat bertemu di satu titik (aku lupa di mana) kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Pos 3 dan berhenti kalau sudah tiba waktu maghrib. Tenda dibawa oleh dua orang, satu dibawa tim yang berjalan di depan dan satu lagi dibawa Diera. Pokoknya begitu sampai, yang pertama harus dilakukan adalah membuat tenda.

Hujan deras pun sempat berganti dengan gerimis ketika hampir sampai Pos 3. Aku sempat mengucap syukur, tapi di dalam hati ini rasanya udah enggak karuan, Diera pun sudah terlihat lelah. Ketika maghrib tiba aku dan Diera pun beristirahat di jalur. Nampaknya kami pendaki terakhir, karena selama perjalanan tidak ada yang menyusul kami. Untungnya letak Pos 3 tak lama dari tempat kami beristirahat.

Begitu sampai, teman-teman sedang mendirikan tenda, hujan mulai turun lagi. Tapi, nih, mereka mendirikan tenda di tempat miring, dan layer dalemnya dulu tanpa ditutupi si layer luarnya. Kan, lagi hujan, ya, basah cyin tendanya. Cepat-cepat revisi dan cari bidang datar. Karena kita rombongan terakhir, kita kebagian lapak paling ujung, enggak ada pohon yang bisa diikat flysheet, dan tanahnya keras banget. Susah buat pasang pasak.

Hujan turun makin menjadi-jadi, tenda belum jadi. Duh, aku sampai putus asa dan nangis. Kalau tenda gagal berdiri, bisa gawat banget. Akhirnya pasak ditanem seadanya. Flysheet pun dipasang seadanya-disangga oleh satu trekking pole punyaku. Bangun tenda dome yang biasanya cuma 15 menit pun jadi 1 jam lebih :'(.

Ini baru tendaku, belum lagi tendanya Diera. Diera pake tenda aku yang jenis tunnel, yang mana dua kali lebih ribet masangnya daripada tenda dome. Ni anak udah dibilangin sebelum berangkat latihan bikin tenda malah enggak dan ngegampangin. Alhasil kesulitan ngebangun tenda ini jadi lebih susah berkali-kali lipat.

Daripada kesal aku milih buat bikin makanan di tendaku yang reyot di bawah flysheet yang ringkih. Sangking ringkihnya, tiap kesenggol roboh :'( . Aku dibantu oleh salah seorang anggota tim, enggak usah repot-repot, deh, ya, masak mie instan aja dulu. Soalnya hujannya enggak santai, angin pun makin kencang. Mimpi buruk, deh, pokoknya.

Si teman yang membantu ini sedikit melamun, dia menuangkan air tanpa memegang misting. Apa yang terjadi selanjutnya? Misting pun tergelincir dari kompor, air yang dia tuangkan pun dengan suksesnya dituang ke sumbu kompor. KRIK KRIK KRIK KRIK KRIK. Dia cuma bisa teriak sambil bilang sori.

Kompor ini enggak butuh korek untuk menyalakan api. Tapi gara-gara dibanjur air jadi enggak bisa nyala. Semua korek api enggak bisa dipake karena udara lembab banget. Duh, Ya Alloh, pingin pulang rasanya. Untungnya di Pos 3 Sindoro ini ada warung, jadinya kita beli mie instan dari sana.

Beres makan, ganti baju, siap tidur. Tapi boro-boro bisa tidur, dingin banget. Laper. Salah seorang temanku pun terkena maag karena telat makan dan dia pun muntah *tepok jidad*. Kita enggak bisa keluar karena di luar masih hujan. Peralatan masak pun di luar tenda hanya ditutupi sekenanya. Terlalu lelah untuk bersih-bersih, sepertinya enggak ada yang peduli juga.

Dini hari hujan mulai reda, kami belum ada yang berhasil tidur. Bukannya tenang, kami makin panik, gangguan lain pun datang. Apa itu? Segerombolan BABI HUTAN! Mereka datang mengelilingi tenda kami. Huhuhuhu.

"Kak, Mel, gimana, nih?"
"Yaudah, gue usir, deh," sambil siap buka pintu tenda.

Tapi tiba-tiba kepikiran, gimana kalau babinya besar? Gimana nanti kalau aku liat-liatan sama babinya? Gimana kalau nanti babinya nyeruduk? Gimana kalau nanti babinya masuk ke tenda. Akhirnya keberanian pun berubah jadi rasa ciut. HAHAHAHA.

Kita hanya berani mengusir babi pake suara dari dalam tenda. Kita juga teriak-teriak ngebangunin si Diera, tapi cuma dijawab pakai suara ngorok yang enggak jauh beda sama suara babi. Si babi ini dengan senangnya mengobrak abrik dapur umum kami. Akhirnya kita memutuskan untuk cuek, tapi si babi ini bergerak memutari tenda. Badannya sering terasa di kaki ketika dia melewati tenda. huhuhuhu.

Serangan babi selesai, lalu kemudian hujan lagi. Huhuhu

"Fixed, aku, enggak akan muncak. Belum makan, belum tidur, belum istirahat, badai, kayaknya aku menyarankan kalian enggak muncak juga, tapi terserah kalau mau juga enggak apa-apa," kataku malam itu. Iya, niat aku untuk ke puncak sudah enggak ada. Aku hanya mau pulang. Mental sudah memble. Yang lain pun sepertinya sama.

Hujan terus berlanjut sampai pagi, keadaan diperburuk dengan air yang masuk ke dalam tenda. Kita duduk berdekatan menghindari air. Lalu kemudian apa yang terjadi? Tenda kami bergerak berputar secara perlahan (bayangkan putaran jalur larinya binatang hamster, seperti itu lah kira-kira). Pintu tenda naik sampai ke atas. Ukuran tenda pun jadi mengecil dan  bentuknya tidak beraturan.

Kami berteriak kepada Diera untuk melihat tenda kami, kami untuk bergerak pun sulit, karena tenda jadi mengecil. Ketika dia keluar, dia tertawa. Bentuk tenda lebih enggak karuan kalau dilihat dari luar. Kita jadi ikut tertawa prihatin. Pelan-pelan, dibantu Diera dari luar, kita bergerak agar tenda bisa kembali ke posisi semula. Fixed pasaknya udah pada lepas semalam.

Jam 6 hujan masih turun, jam 7, jam 8, dan akhirnya jam 9 hanyalah kabut yang tersisa, kami semua keluar dari tenda. Terkejut dengan peralatan kami yang porak poranda oleh babi, tenda yang tidak karuan, dan lelah yang belum terobati. Bukan hanya kami yang gagal ke puncak, hampir semua pendaki tidak ada yang naik.

Aku coba kembali menyalakan kompor dengan bantuan korek. Alhamdulillah banget bisa nyala lagi. Perbekalan pun dibongkar, masak, dan sarapan. Dengan segera kami pun berkemas untuk pulang, takut hujan turun lagi.

Perjalanan turun tidak begitu mengkhawatirkan walau hujan turun di tengah jalan. Rasanya aku bersyukur banget bisa kembali ke basecamp.

"Lu pulang bareng kita, kan, Mel?" kata Diera.
"Yoi, tapi gue gerbong executive," jawabku.
"Emang masih ada, ya, kok, kemarin gue liat udah habis?" tanya Diera.
"Ada, dooong, gue gitu, loh," jawab aku dengan bangga.

Lalu kami pun bergerak menuju stasiun kereta (aku lupa apa nama stasiunnya). Kami tiba malam hari jam 10-an, sementara kereta kami jam 1 pagi keesokan harinya. Si Diera, pas mau check in pake diketik segala nomer booking-nya. Lalu aku bilang, "Yaelah, Dir, di scan aja kali," seraya aku scan barcode-nya.

Lalu apa yang terjadi?
Muncul tulisan:
MAAF, ANDA SUDAH TIDAK BISA MENCETAK TIKET

HAHHHHHHHH?
Aku coba berkali-kali ternyata gak bisa. Pas aku cek lagi, ASTAGA NAGAAAAA!!!!!!!!
Ternyata aku salah tanggal. Misal, nih, aku mustinya beli untuk tanggal 2 jam 1 pagi, aku malah beli untuk tanggal 1 (hari di mana aku turun gunung) jam 1 pagi (yang mana aku masih di atas, dan lagi dipermainkan babi di Sindoro).

PANIK PARAH!!!
Mana harus kerja lagi. Nyari tiket yang tersedia hanya jam 10 pagi di tanggal 2. Huhuhuhu.
Ketika teman-teman aku pulang, aku terpaksa bermalam di stasiun kereta.

Apes, dah!

Ratucumi
 

Kamis, 21 Februari 2019

Namanya Gendon


Jadi aku punya sosok fantasi, namanya Gendon. Mungkin beberapa orang yang membaca tulisan ini akan langsung terpanggil memorinya kepada seseorang. Tapi bukan. Sosok Gendon ini ciptaan aku, seseorang yang selalu bisa membuat aku nyaman seperti sedang berada di dalam rumah.

Kenapa namanya Gendon? Kenapa enggak yang lain saja? Karena nama Gendon ini memang cukup membekas di hati. Hampir mendekati sosok yang sesuai dengan imajinasi aku.

Gendon ini sosok di pikiran aku. Jadi kalau aku lagi kesepian kadang-kadang aku menghadirkan sosok Gendon ini di dalam pikiran aku. Tak berupa, tak berwujud, kasat mata, tapi bukan teman khayalan. Gendon itu aku versi pikiranku sendiri. Gendon itu Melissa.

Jadi aku ini sering ke mana-mana sendirian, nah, biar enggak merasa sendiri-sendiri banget aku ciptakanlah si Gendon ini. Misal kalau aku ke supermarket mau belanja, aku ngobrol sama diri aku sendiri. Alih-alih menamakannya Melissa, aku menamakannya Gendon.

Semoga kalian paham, ya, dengan kerumitan aku hahahahhaa.

Gendon ini penyemangat aku di segala suasana. Kalau aku bingung, patah semangat, Gendon ini akan memberikan masukan dan membakar kembali semangat yang ada. Gendon selalu bilang, “Ayo, Melissa, kamu bisa. Kalau enggak sekarang kapan lagi.”

Nah, kalau aku beli barang untuk diri aku sendiri, aku anggap itu dari Gendon. Sehingga apa yang aku mau Gendon ini selalu kasih, enggak pernah salah, dan selalu sesuai dengan yang aku mau. Jauh dari apa yang namanya kecewa.

Sempat, nih, aku mau menghidupkan sosok Gendon di orang lain. Tapi ternyata enggak bisa. Karena yang namanya manusia itu punya raga dan pemikiran individu. Tidak bisa dibentuk sesuai dengan keinginan kita. Mereka punya cara sendiri untuk menjalani hidup, tidak bisa disamakan dengan cara aku, maupun cara Gendon.
Mungkin aku dan Gendon punya cara yang sama. Karena kembali lagi, Gendon adalah aku. Semuanya sesuai dengan keinginan aku.

Apakah Gendon ini sebagai bukti bahwa aku tidak bisa move on? Bukan. Justru Gendon ini pengingat bahwa yang bisa sesuai dengan keinginan dan pemikiran aku itu hanyalah diri aku sendiri. Aku tidak punya hak sedikitpun kepada individu lain untuk membentuknya sesuai dengan apa yang aku mau. Setiap orang itu adalah individu yang memiliki kebebasan, kemerdekaan, atas diri mereka sendiri.
Cukuplah aku mengatur diri aku sendiri sesuai dengan keinginanku. Tapi biar enggak merasa sendirian dan kesepian maka aku ciptakan Gendon.

Begitulah. Kadang hidup ini kayak permainan.